Ikan Gobi si Pemanjat Batu

Ikan Gobi si Pemanjat Batu

Biasanya memanjat hanya bisa dilakukan mahluk yang mempunyai kaki, bahkan tangan. Ternyata ada ikan yang bisa memanjat menggunakan mulutnya.

Ikan ini bernama Gobi Nopoli Rock Climbing atau Sicyopterus stimpsoni. Para peneliti baru-baru ini mengumumkan hasil temuannya di Hawaii, Amerika Serikat. Ikan kecil ini diketahui mampu memanjat air terjun setinggi 100 meter dengan hanya menggunakan mulutnya.

Bagaimana caranya? Yakni dengan menghisapkan mulutnya ke permukaan batuan dan memindahkan badannya secara perlahan-lahan.

Menurut Richard Blob, Peneliti Evolusi Biomechanist dari Clemson University di South Carolina, ikan yang dapat tumbuh sepanjang 18 cm ini menggunakan kekuatan rahang untuk menempelkan mulutnya ke permukaan batu untuk mengikis makanan.

“Selain untuk makan, mulutnya digunakan juga untuk mendaki. Ini adalah salah satu bentuk evolusi perilaku dari seekor hewan saat mencari makanan,” kata Blob.

Untuk membuktikan apakah ikan ini benar mendaki, para peneliti menangkap ikan Gobi Nopoli Rock Climbing dan menaruhnya di dalam akuarium. Mereka pun merekam kekuatan rahang ikan Gobi saat menempelkan mulutnya di sisi akurium dan memanjatnya untuk meraih makanan.

“Perilaku ini belum jelas tujuannya, apakah kegiatan makannya disesuaikan untuk mendaki, atau sebaliknya,” tambah Blob lagi.

Saat ini para peneliti sedang mengumpulkan spesies ikan Gobi lain yang berasal dari Karibia untuk mengetahui urutan dari evolusi perilaku ekstrim ikan ini. Hasil dari penelitian ini telah dipublikasikan pada Jurnal Online Plus One pada tanggal 4 Januari lalu.

Sumber : http://www.republika.co.id/berita/senggang/unik/13/01/09/mgc112-wow-ikan-ini-bisa-memanjat-dengan-mulutnya
Redaktur: Endah Hapsari; dari: apakabardunia.com

Iklan
Gambar | Posted on by | Tag | Meninggalkan komentar

Mimpi Rosihan Arsyad di Tanjung Api-api

Artikel ini merupakan copas dari artikel Rosihan Arsyad, Gubernur Sumatera Selatan 1998 – 2003 yang dimuat di Sriwijaya Post, 1 Nopember 2012 http://palembang.tribunnews.com/2012 / 11/01/mimpi-naik-sepur-ke-tanjung-api-api

dengan judul “Mimpi Naik Sepur ke Tanjung Api-api”.

Foto: Rosiha Arsyad.
Saat Audiensi dengan Wedland International.

Oleh: Rosihan Arsyad
Gubernur Sumsel 1998-2003

“I have a dream” – Aku Punya Mimpi . Pekik Martin Luther King, Jr pada 28 Agustus 1963, menyerukan kesamaan ras dan pengakhiran diskriminasi. Saat itu, orang hitam Amerika diperlakukan tidak setara, bahkan tidak bisa masuk restoran orang kulit putih. Pidato yang dikumandangkan dari tangga The Lincoln Memorial saat demonstrasi di Washington
menuntut lapangan pekerjaan dan kebebasan merupakan momen yang menentukan dalam Gerakan Hak-hak Warga Amerika.

Sekarang, persamaan hak telah nyata, bahkan Presiden Amerika Serikat adalah keturunan Afrika, dari bapak yang berasal dari Kenya. Tidak ada yang bisa meragukan kekuatan “mimpi”, bahkan khayalan. Mungkin ada yang ingat cerita Flash Gordon? Komik karya Alex Raymond (terbit pertama 7 Januari 1934) berkisah tentang seorang pemain polo tamatan Universitas Yale yang berkelana ke ruang angkasa, mencari penyebab hujan meteor di bumi, bahkan Flash Gordon mencapai tata surya lain mengendarai kapal ruang angkasa yang lebih cepat dari cahaya. Dahulu hanya mimpi, tetapi sekarang, perjalanan ke ruang angkasa bukan hanya oleh AS dan Rusia, tetapi juga China, India, Eropa dan Iran!

Merencanakan Masa Depan
Dulu kita berani bermimpi dan tak gentar mewujudkannya.
Tidak punya apa-apa berani mimpi dan berjuang bersama untuk merdeka. Saat merdeka kita tidak punya birokrasi, tidak punya uang, tapi bertahan dan meskipun mungkin seharusnya bisa lebih cepat, Indonesia berkembang dan maju.

Sekarang tidak perlu mimpi, tapi harus mau merencanakan masa depan dengan mempraktekkan teori perubahan sosial mengenai “Belajar Dari Masa Depan” – “Learning From the Future “atau teori” the U Process “yang dikembangkan oleh Prof Otto Scharmer dari Massachusetts Institute of Technology.

cacat menciptakan masa depan seperti yang kita inginkan dimulai dengan melakukan sensing, mendengarkan secara seksama aspirasi dan keinginan pemangku kepentingan, yang kemudian dikembangkan menjadi sebuah prototip untuk memeriksa kesahihannya.

Belajar dari masa depan bukan hanya untuk hal-hal yang kasat mata (tangible) tetapi juga untuk yang tidak kasat mata (intangible) seperti pelestarian lingkungan.

Misal, siapa dulu mengira emisi karbon mengakibatkan penipisan lapisan ozone yang bermuara pada pemanasan global dan perubahan iklim? Ini salah satu contoh bagaimana permasalahan hari ini sering diakibatkan oleh solusi yang kita anggap tepat pada masa lalu. Untuk memudahkan kerja manusia diciptakan mesin termasuk berbagai kendaraan berbahan bakar fosil, yang ternyata menyebabkan emisi karbon, mengikis lapisan ozone. Sebuah konsekuensi yang bukan saja tak terbayangkan, tapi juga tidak diperkirakan, unintended consequences!

Mari kita mulai merencanakan masa depan dengan hal-hal yang mudah, namun bermanfaat. Transportasi misalnya. Saya pernah bermimpi sangat sederhana, Palembang-Indralaya dihubungkan oleh jalan tol. Tapi sayang, gayung tak bersambut. Pemerintah pusat melalui Jasa Marga mendukung setengah hati, dengan dalih belum cukup volume kendaraan (seingat saya disebut angka 20.000 kendaraan perhari) untuk layak membuat jalan tol. Kita lupa bahwa kadang-kadang harus menggunakan prinsip trade follow the road. Artinya, kalau transportasi tersedia, perdagangan akan meningkat.

Contoh nyata, tol Jagorawi, tidak dibayangkan akan seramai sekarang. Sehari, 400 ribu mobil masuk Jagorawi. PT Jasa Marga Tbk, mengungkapkan lalu lalang kendaraan di seluruh ruas tol milik perusahaan hingga akhir 2011 diperkirakan mencapai 1,07 miliar, pada 2012 menjadi 1,11 miliar unit!

Dengan pembangunan Jagorawi, wilayah selatan Jakarta berkembang. Cibubur, Cimanggis, Sentul, Sentul Selatan, bahkan Bogor, Ciawi sampai Lido pun turut berkembang. Coba kalau tahun 2002 jalan tol Indralaya Palembang jadi dibangun, investor sudah untung besar, hubungan lancar, wilayah sepanjang Palembang-Indralaya lebih pesat berkembang.

Jalan Sepur ke Tanjung Api-Api
Ironisnya, jangankan yang masih berupa mimpi, pelabuhan Tanjung Api-Api yang sudah jelas pun masih belum dibangun.
Batubara yang akan diangkut sudah jelas. PTBA menjamin jumlah dan volume angkutan yang cukup untuk mengembalikan investasi, bahkan ada untung. Perusahaan swasta India mau membangun pelabuhan yang dimaksud dan karena investasi langsung rasanya tidak perlu jaminan pemerintah.

Head of Agreement sudah ditandatangani dan sebagai tanda kesungguhan, sejumlah uang Dolar Amerika sudah ditransfer ke Bank Sumsel. Infrastruktur yang akan dibangun pun jelas, yaitu jalur kereta api dan stock piling area, berikut jetty. Ijin penggunaaan hutan lindung sudah dikantongi. Meskipun prosesnya dianggap bermasalah, tapi ijin tersebut seharusnya tetap sah.
Tidak jelas apa yang menyebabkan Jakarta belum memberi lampu hijau.
Konon terganjal Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 91 tahun 2011 tentang Penyelenggaraan Perkeretaapian, khususnya Pasal 2a yang menyatakan bahwa pemeliharaan Perkeretaapian khusus dilakukan dengan prinsip: “hanya digunakan untuk kepentingan sendiri dalam rangka untuk menunjang kegiatan pokoknya atau digunakan oleh beberapa badan usaha yang berafiliasi untuk menunjang kegiatan pokok yang sejenis “. Aturan ini katanya menjegal proses pembangunan double track karena Adani Global selaku investor sekaligus penyelenggara, tidak memiliki ijin usaha pertambangan batubara (IUP). Kalau benar, maka kita tersandera peraturan dan hukum. Padahal, seharusnya peraturan mendahulukan asaz keadilan dan manfaat.

Jelas tidak mungkin memberikan IUP baru di Sumsel karena lahan sudah terbagi habis. Tapi, bukankah sangat menguntungkan kalau ada perusahaan yang tidak memiliki IUP mau membangun jalan kereta dan pelabuhan, apalagi para pemilik IUP di Sumsel bahkan PTBA pun tidak berani berinvestasi.

Tahun 2002 saya pernah meminta dilakukan seperti due diligence PTBA oleh Clough Engineering dari Australia, perusahaan yang dulu memiliki petrosea, kontraktor batubara. Hasilnya, dengan organisasi yang ada, sangat mudah untuk PTBA mengembangkan produksinya secara bertahap menjadi 50 juta ton dalam lima tahun, apabila angkutan tersedia.

Namun, waktu itu harga batubara sangat rendah, tidak akan kembali modal bahkan rugi kalau batubara diangkut dengan rel kereta api ganda dan pelabuhan yang dibangun baru . Akibat tidak cukup volume angkutan, produksi PTBA hanya naik sedikit-sedikit, dari sekitar 12 juta ton tahun 2002 menjadi sekitar 16 juta ton tahun 2011. Pemerintah Daerah Sumsel adalah pemegang lebih dari 20 juta lembar saham PTBA, diperoleh saat saya masih menjabat. Selain itu, pemegang IUP lain di Sumsel tidak bisa berproduksi optimal, dan angkutan batubara mereka mengakibatkan kemacetan dan kerusakan jalan.

Pelabuhan Tanjung Api-Api juga akan membuka keterisolasian wilayah pantai Timur Sumsel yang sekarang menjadi salah satu sentra produksi beras. Rasanya tidak kurang asaz keadilan dan manfaat pelabuhan Tanjung Api Api untuk masyarakat Sumsel.
Sekarang batubara masih laku dijual.
Kita tidak tahu sampai kapan batubara bisa dipakai dan laku, karena penemuan energi terbarukan yang lebih murah.

Sekarang, sampah pun sudah bisa dijadikan bahan bakar turbin penghasil listrik. Inilah saatnya mewujudkan mimpi naik kereta api ke Tanjung Api-Api, yang sudah dirintis sejak gubernur masih dijabat Bapak Ramli Hasan Basri, dilanjutkan oleh para penggantinya.

Sumatera Selatan sangat mengharapkan keikhlasan pemerintah pusat untuk memberi lampu hijau pembangunan pelabuhan Tanjung Api-Api, sebagai bagian integral Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI).
Mungkin para Petinggi Negara asal Sumsel bisa membantu mewujudkan mimpi kami naik sepur ke Tanjung Api-Api!

* Penulis adalah Gubernur Sumsel 1998-2003, sekarang adalah: President United in Diversity Forum; Advisory Board Member, Conservation International Indonesia dan Direktur Eksekutif Institute for Maritime Studies.

Gambar | Posted on by | Meninggalkan komentar

MK BUBARKAN SEKOLAH BERTARAF INTERNASIONAL

Mahkamah Konstitusi membubarkan sekolah bertaraf internasional dan rintisan sekolah bertaraf internasional. Hal ini merupakan dampak dari dikabulkannya uji materi terhadap Pasal 50 Ayat 3 Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional yang mengatur pembentukan sekolah bertaraf internasional.

Majelis hakim konstitusi menilai pembentukan sekolah bertaraf internasional berpotensi mengikis rasa bangga dan karakter nasional. Hal ini bertentangan dengan konstitusi yang menganjurkan pemerintah untuk semakin meningkatkan rasa bangga dan membina karater bangsa.

”Membangun pendidikan yang setara internasional tidak harus mencantumkan label bertaraf internasional. Sistem pendidikan di dalamnya juga berdampak mengurangi pembangunan jati diri nasional,” kata hakim konstitusi Anwar Usman dalam sidang pembacaan putusan di gedung Mahkamah Konstitusi, Selasa, 8 Januari 2013.

Selain itu, pembentukan sekolah RSBI melahirkan perlakuan berbeda pemerintah terhadap sekolah dan siswa. Hal ini dianggap bertentangan dengan Pasal 31 Ayat 1 dan Ayat 2 Undang-Undang Dasar 1945 tentang hak dan kewajiban menjalankan pendidikan.

Majelis menyatakan, siswa yang memiliki kemampuan lebih atau di atas rata-rata memang perlu diperlakukan secara berbeda. Akan tetapi, hal itu tidak berarti harus diaplikasikan dengan membentuk RSBI. Pembentukan sekolah bertaraf internasional lebih menunjukkan perlakuan pemerintah yang berbeda. Sebab, nilai rata-rata yang tinggi hanya bagi siswa RSBI sedangkan sekolah biasa akan terus ketinggalan.

Ia juga menyatakan, dengan pembentukan RSBI, pendidikan berkualitas menjadi mahal. RSBI hanya dapat dinikmati beberapa kalangan. Menurut Anwar, ini menunjukkan ketidakadilan terhadap siswa.

Uji materi ini diajukan murid, dosen, aktivis pendidikan, dan Indonesia Corruption Watch, karena merasa dirugikan dengan pemberlakuan pasal tersebut. Mereka mendalilkan RSBI dan SBI sangat rentan dengan penyelewengan dana. Dua sekolah bertaraf internasional itu juga dituding berpotensi menimbulkan diskriminasi dan kastanisasi dalam bidang pendidikan.

Sejak aturan disahkan, dalam waktu singkat sekolah RSBI terbentuk di setiap kabupaten dan kota. Salah satu pengugat, Federasi Serikat Guru Indonesia, mencatat pada 2012 ada 1.300 sekolah RSBI untuk tingkat sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), sekolah menengah atas (SMA), ataupun sekolah menengah kejuruan (SMK).

 Sumber : Tempo.co. :  FRANSISCO ROSARIANS

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Jika tubuh kita terkait mata pancing / kail

Jika tubuh kita terkait mata pancing / kail

Jika ada bagian dari tubuh kita terkait oleh kail, maka cara melepaskannya lihat gambar.

Gambar | Posted on by | Meninggalkan komentar

RIP Current

RIP Current

RIP CURRENT

Para praktisi ilmu kebumian menegaskan bahwa penyebab utama hilangnya sejumlah wisatawan di Pantai Parangtritis, Bantul, adalah akibat terseret rip current. Dengan kecepatan mencapai 80 kilometer per jam, arus balik itu tidak hanya kuat, tetapi juga mematikan.

Kepala Laboratorium Geospasial Parangtritis I Nyoman Sukmantalya mengatakan, sampai sekarang informasi mengenai rip current amat minim. Akibatnya, masyarakat masih sering mengaitkan peristiwa hilangnya korban di pantai selatan DI Yogyakarta dengan hal-hal yang berbau mistis. Padahal, ada penjelasan ilmiah di balik musibah tersebut.
Arus balik merupakan aliran air gelombang datang yang membentur pantai dan kembali lagi ke laut. Arus itu bisa menjadi amat kuat karena biasanya merupakan akumulasi dari pertemuan dua atau lebih gelombang datang.

“Bisa dibayangkan kekuatan seret arus balik beberapa kali lebih kuat dari terpaan ombak datang. Wisatawan yang tidak waspada dapat dengan mudah hanyut,” demikian papar Nyoman, Selasa (3/2) di Yogyakarta.

Celakanya, arus balik terjadi begitu cepat, bahkan dalam hitungan detik. Arus itu juga bukan hanya berlangsung di satu tempat, melainkan berganti-ganti lokasi sesuai dengan arah datangnya gelombang yang juga menyesuaikan dengan arah embusan angin dari laut menuju darat.

Nyoman melanjutkan, korban mudah terseret arus balik karena berada terlalu jauh dari bibir pantai. Ketika korban diterjang arus balik, posisinya akan mudah labil karena kakinya tidak memijak pantai dengan kuat.
“Karena terseret tiba-tiba dan tidak bisa berpegangan pada apa pun, korban menjadi mudah panik, dan tenggelam karena kelelahan,” lanjutnya.

Terpisah, Staf Ahli Pusat Studi Bencana Universitas Gadjah Mada, Djati Mardianto, melanjutkan, apabila korban tetap tenang saat terseret arus, besar kemungkinan baginya untuk kembali ke permukaan. “Karena arus berputar di dasar laut sehingga materi di bawah bisa naik lagi,” ujar Djati.

Setelah mengapung, korban bisa berenang ke tepi laut, atau membiarkan diri terempas ke pantai oleh gelombang datang lain. Setidak-tidaknya, korban memiliki kesempatan untuk melambaikan tangan atau berteriak minta tolong.

Bagaimana dengan korban hilang? Djati mengatakan, hal itu dapat terjadi apabila korban terlalu kuat melawan arus saat berada di dalam air sehingga urung mengapung. Sebaliknya, korban akan semakin jauh terseret arus bawah laut dan bisa tersangkut karang atau masuk ke dalam patahan yang berjarak sekitar satu kilometer dari bibir pantai. Di dasar patahan yang kedalamannya mencapai ratusan meter itu, korban akan semakin sulit bergerak karena ia bercampur dengan aneka materi padat yang terkandung dalam arus.

Korban akan diperlakukan sama seperti material, yakni diendapkan. Korban baru bisa kembali terangkat ke permukaan jika ada arus lain yang mengangkat sedimen dari dasar laut. Namun, ia mengatakan, biasanya hal itu butuh waktu lama.

Meski sulit, diperkirakan kedatangannya, arus balik sebenarnya bisa dikenali. Menurut Nyoman, permukaan arus balik terlihat lebih tenang daripada gelombang datang yang berbuih. Selain itu, arus balik biasa terjadi di ujung-ujung cekungan pantai dan warnanya keruh karena membawa banyak materi padat dari pantai.
Masalahnya, banyak wisatawan justru senang bermain di pantai yang tenang karena dianggap lebih aman. “Padahal, lokasi tersebut amat berbahaya,” kata Nyoman.

Sejauh ini, cara terbaik untuk mengurangi risiko bencana terseret arus di pantai adalah dengan tidak bersikap nekat berenang ke tengah laut. Pengunjung harus benar-benar mematuhi rambu larangan berenang yang dipasang tim search and rescue (SAR) di sepanjang pantai.

Selain itu, kondisi cuaca juga harus dipertimbangkan. Gelombang laut akan membesar di musim penghujan karena terpengaruh angin barat. Berenang di laut pada malam hari pun sebisa mungkin dihindari karena arus balik akan menguat akibat terpengaruh pasang.

Menurut kedua pakar geomorfologi pesisir itu, tidak ada pantai di DIY yang aman. Semua memiliki potensi arus balik yang kuat. Bahkan, di sejumlah pantai di Gunung Kidul, arus balik kian diperkuat oleh buangan air sungai bawah tanah.

Pemerintah daerah juga bisa mempelajari pola-pola arus balik dengan melakukan pengamatan rutin sepanjang tahun menggunakan citra satelit beresolusi tinggi, seperti citra Quickbird dan IKONOS. Kedua satelit itu bisa merekam dengan jelas benda yang berukuran kecil hingga ukuran satu meter.

“Sejauh ini, penelitian ke arah sana baru sebatas pada skripsi mahasiswa. Belum ada penelitian yang mendalam dan menghasilkan rekomendasi kebijakan,” papar Djati.

Pemerintah daerah pun sebaiknya memberikan pemahaman yang benar mengenai penyebab bencana laut kepada warga di sekitar pantai. Informasi tersebut dapat diteruskan kepada wisatawan guna meningkatkan kewaspadaan mereka.

Bagi pengunjung, informasi berupa papan larangan berenang dan imbauan petugas dianggap jelas belum cukup. Kenapa tak dibagikan leaflet kecil begitu pengunjung mau masuk pantai. Leaflet itu berisi penjelasan singkat, harus bagaimana dan di mana jika ingin mencebur ke laut.

Nyoman mengatakan, ketinggian air sepaha orang dewasa sudah cukup bagi arus balik untuk menyeret orang ke tengah laut. Paling aman, usahakan air hanya sampai ketinggian mata kaki.
Gambar:

Kita mungkin dapat melihat suatu arus balik dari suatu tempat yang lebih tinggi di pantai, atau dapat juga bertanya dengan penjaga pantai yang bertugas atau dengan penduduk setempat yang tahu di lokasi mana terdapat rip current. Berdasarkan pengamatan, sifat-sifat Rip Current dapat diketahui dengan :

1. Melihat adanya perbedaan tinggi gelombang antara kiri-kanan dan antaranya. Tinggi gelombang pada bagian kiri dan kanan lebih besar dari antaranya.

2. Meletakkan benda yang dapat terapung. Bila benda tersebut terseret menuju off shore maka pada tempat tersebut terdapat Rip Current.

3. Melihat kekeruhan air yang terjadi, dimana air pada daerah surf zone tercampur dengan air dari darat. Bila terlihat air yang keruh menuju off shore, maka tempat tersebut terdapat Rip Current. Kejadian ini dapat dilihat dengan jelas dari tempat yang lebih tinggi.

Gambar | Posted on by | Meninggalkan komentar

TRAWL

TRAWL ! Apakah itu trawl ?

Bagi kebanyakan orang Indonesia, TRAWL merupakan sepatah kata yang sangat menakutkan. Dan sesungguhnya apakah trawl itu ? Disini penulis mencoba memberikan gambaran tentang TRAWL ! dan, Apakah itu trawl ? Dengan tujuan untuk memberikan gambaran yang objektif terhadap teknologi penangkapan ikan ini.

Yang ingin dikemukakan disini hanya : TRAWL ! Benarkah trawl sebuah alat yang sangat menakutkan dan yang dapat merusak terumbu karang ? Sehingga menjadikan nelayan di republik ini menjadi miskin ? Atau apakah benar trawl merusak terumbu karang, sehingga sumberdaya ikan laut menjadi langka yang pada akhirnya nelayan di Negeri Gemah Ripah Loh Jenawi ini menjadi miskin ?

Sekali lagi : TRAWL ! Apakah itu trawl ?

Pertanyaan ini sangat relevan dikemukakan melihat fakta emperis yang telah berlalu, sedang dan terus berlangsung, lebih-lebih akhir-akhir ini sering kali muncul di media pemberitaan mengenai penangkapan kapal trawl (trawler) dari Negara tetangga yang memasuki wilayah perairan Indonesia atau kapal trawl berbendera Indonesia tetapi ABK (anak buah kapal)nya dari negara tetangga atau pemalsuan dokumen perizinan oleh nelayan Indonesia. Seperti :

1. Berita media : Dua kapal pukat harimau berbendera Malaysia dengan 2 Nakhoda dan 10 ABK berkebangsaan Malaysia dan Myanmar ditangkap Kamla di Perairan Dumai, Riau. Yang diiupload ke Youtube tgl 8 Oktober 2009. http://www.youtube.com/watch?v=fFRqzp8UkrY&NR=1

2. Berita media : Empat kapal trawl yaitu KMN Perkasa II, Perkasa Jaya, Bunga Padi dan Karya Nelayan II milik pengusaha Malaysia yang melakukan pencurian ikan di wilayah perairan utara Kalimantan Timur daitangkap Kepolisian Air dan Udara (Polair) Polda Kalimantan Timur dan menhan menahan empat orang nahkoda kapal dan tujuh anak buah kapal. Di antara anak buah kapal yang ditahan terdapat empat warga negara Filipina. Aparat juga menyita barang bukti hasil tangkapan sekitar 720 kilogram udang dan sekitar 550 kilogram ikan. Komandan Patroli Direktorat Polairud Polda Kalimantan Timur Ajun Komisaris Polisi Bahril AMD mengatakan, tersangka akan dijerat dengan Pasal 93 Ayat 1 Undang-undang 31 Tahun 2004 tentang Perikanan. Mereka diancaman hukuman enam tahun penjara dan denda sebesar Rp 2 miliar. Kapal trawl Malaysia selama ini sering melakukan pencurian ikan di perairan bagian utara Kalimantan Timur. Yang di upload ke Youtube tgl. 15 Oktober 2009 http://www.youtube.com/watch?v=FiWIgHNKDcU

.
3. pesan yang dipublikasikan Mukhtar APi grup facebokk : Corps Pengawas Perikanan Indonesia pada tanggal 11 Maret 2011
Judul: Satu Kapal Illegal Fishing Malaysia di Tangkap
Lagi-lagi Kapal Pengawas HIU MACAN 001 yang dinahkodai Samson milik Direktorat Jenderal Pengawasan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan menangkap kapal Illegal Fishing Asal Malaysia sebanyak 1 kapal yaitu pada tanggal 10 Maret 2011 pada jam 09.05 WIB dengan abk 4 orang berkewarganegaraan Thailan di Wilayah Pengelolaan Perikanan Republik Indonesia Perairan Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI) Selat Malaka.

Kapal tersebut adalah KM. KHF 1739 GT. 63,80 pada posisi 04º26’42” N – 099º41’47” E tidak mempunyai Surat Izin Usaha Perikanan (SIUP) dan Surat Izin Penangkapan Ikan (SIPI) penggunaan alat tangkap terlarang Trawl melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf (b) Jo pasal 92 Jo pasal 93 ayat (2) Jo pasal 86 ayat (1) UU No. 45 Tahun 2009 tentang perubahan atas UU No. 31 Tahun 2004 tentang Perikanan. Tadi malam jam 19.00 WIB tiba didermaga Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan langsung diterima oleh Kepala Stasiun Pengawasan Sumberdaya Kelautan Belawan Mukhtar, A.Pi, http://www.facebook.com/l/671c26tIkG6x8cNKH72Zx8-3mtQ/M.Si dari Nahkodak KP. Hiu Macan OO1.http://www.facebook.com/l/671c2zMw0SrHtO7_cNXPLHjh09w/mukhtar-api.blogspot.com/2011/03/satu-kapal-malaysia-ditangkap-lagi.html

4. pesan yang dipublikasikan Mukhtar APi grup facebokk : Corps Pengawas Perikanan Indonesia pada tanggal 12 Maret 2011
Judul: 2 Kapal Diduga Izin Palsu di Tangkap
Dua Kapal Ikan diduga izin palsu yaitu KM. Tiara 37 GT. 90 dan KM. Tiara 38 GT. 90 ditangkap Kapal Pengawas HIU 009 yang dinahkodai Margono milik Direktorat Jenderal Pengawasan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan menangkap berbendera Indonesia alat tangkap Pair Trawl yaitu pada tanggal 8 Maret 2011 pada jam 16.25 WIB dengan abk 23 orang berkewarganegaraan Thailan di Wilayah Pengelolaan Perikanan Republik Indonesia Perairan Zona Ekonaomi Eksklusif Indonesia (ZEEI) Laut Cina Selatan.

Kapal ikan pada posisi 04º20’00” N – 109º00’00” E mempunyai Surat Izin Usaha Perikanan (SIUP) dan Surat Izin Penangkapan Ikan (SIPI) diduga palsu penggunaan alat tangkap terlarang pair Trawl melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf (b) Jo pasal 92 Jo pasal 93 ayat (2) Jo pasal 86 ayat (1) UU No. 45 Tahun 2009 tentang perubahan atas UU No. 31 Tahun 2004 tentang Perikanan. Diadhock ke Pelabuhan Perikanan Pemangkat pada tanggal 11 Maret 2011 jam 17.00 WIB.

5. Bangkapos.com – Minggu, 3 April 2011 13:28 WIB. http://bangka.tribunnews.com/2011/04/03/tiga-kapal-trawl-ditangkap
Judul : Tiga Kapal Trawl Ditangkap
Laporan wartawan Bangka Pos, Barlyant
TOBOALI, BANGKA POS.com — Tiga unit kapal trawl berhasil diamankan aparat Kamla (Keamanan Laut) TNI AL Toboali ketika beroperasi di perairan Pulau Dapur, Bangka Selatan, Jumat (31/3/2011) sekitar pukul 16.00 WIB. (alinea utama)

Ketika melintas di sekitar perairan Pulau Dapur, aparat melihat tiga unit kapal yang dicurigai sebagai kapal trawl. Setelah didekati dan diperiksa ternyata benar ketiga kapal itu membawa jaring trawl. Bahkan tiga kapal asal Tegal, Jawa Tengah ini tidak mengantongi izin tangkap dari Pemkab Bangka Selatan. Tiga unit kapal trawl ini pun langsung digiring ke Tanjung Ketapang, Toboali untuk diproses lebih lanjut.

6. Padang Today.com. pada Senin, 4 April 2011. http://www.padang-today.com/?mod=berita&today=detil&id=26964
Judul : Pukat Harimau Penyumbang Kemiskinan Keluarga Nelayan
Pelarangan penggunaan pukat harimau atau trawl ini sudah dilakukan sejak tahun 1980 sesuai Kepres nomor 39. Ini juga dilakukan oleh beberapa negara lain karena dinilai sangat merusak. Namun kenyataan yang terjadi dilapangan, aksi ini masih saja dilakukan oleh kapal-kapal nelayan modern dan canggih, sebagai mana dikeluhkan oleh masyarakat nelayan di Pesisir Selatan.

“Laporan yang diterima dari masyarakat nelayan, tidak kurang puluhan kapal yang melakukan aksi penangkapan menggunakan pukat harimau ini setiap harinya. makanya berdampak terhadap hasil tangkapan nelayan lokal yang hanya mengandalkan alat sederhana dan tradisional,” ungkap Zulkardianto, anggota Komisi III DPRD Pesisir Selatan (Pessel), kepada Padang Ekspres kemarin. …. Ditambahkanya, sampai saat ini belum satupun pelanggar atau pelaku yang menggunakan pukat harimau ini yang berhasil ditangkap. Padahal kejadian ini ada di depan mata dan sudah menjadi santapan nelayan setiap harinya.

7. http://www.youtube.com/watch?v=6Yj7Lft_Nug&feature=related Kronologis penangkapan dua kapal illegal fishing asal Malaysia oleh KP.HIU-001 milik Kemeterian Kelautan dan Perikanan pada hari Kamis tanggal 07 April 2011 pukul 10.05 WIB, KP.HIU-001, posisi 04’21″05 U – 99’20″50 T mendeteksi ada 2 (dua) buah kapal ikan asing yang diduga telah melakukan deteksi kapal dengan radar di wilayah ZEE Indonesia. Pada pukul 10.35 WIB, KP.HIU-001 posisi 04’28″01 U – 99’20″03 T, KP.HIU 001 melakukan pengejaran terhadap kapal ikan asing tersebut. Tepat pukul 11.20 WIB KP.HIU 001 posisi 04’40″50 U – 99’15″00 T, KP.HIU 001 melakukan Henrikhan terhadap kapal ikan asing yang diketahui bernama KF.5195 dengan alat tangkap trawl tanpa bendera dengan nakhoda bernama Mr. Nhoi. Usia 47 Tahun, termasuk 4 orang ABK berkebangsaan Thailand. Setelah dilakukan pemeriksaan, kapal ikan asing tersebut tidak memiliki dokumen yang sah.

8. Bisnis Sumatera.com tanggal 22 April 2011. http://www.bisnis-sumatra.com/index.php/2011/04/pukat-harimau-mengganas-di-mukomuko/
Judul : Pukat Harimau Mengganas di Mukomuko.
MUKOMUKO: Pemerintah Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu dan penegak hukum di daerah itu diminta menertibkan kapal pukat harimau yang beroperasi di perairan nelayan tradisonal. “Hampir setiap saat Kami melarang kapal pukat harimau (trowl) beroperasi di perairan nelayan tradisonal, tetapi tetap saja mereka beroperasi,” ungkap Ketua Nelayan Tradisional Kecamatan Ipuh Saradi di Mukomuko, Jumat 22 April 2011.
Sebelumnya beberapa kapal yang mengunakan pukat harimau berasal dari Kecamatan Teramang Jaya pernah ditangkap oleh nelayan tradisional, dan diberikan denda sebesar Rp25 juta, setelah itu dilepas. Tetapi, aktivitas pencurian ikan di perairan nelayan tradisional masih tetap saja terjadi, bahkan saat ini kapal yang mengunakan pukat yang merusak terumbu karang itu mencapai 20 unit. “Ditambah dengan empat kapal pukat trawl yang bersal dari pelabuhan pulau baai Bengkulu, masih tetap rutin melakukan penangkapan ikan di perairan daerah ini,” ungkapnya.

9. Media Indonesia, pada tanggal 28 April 2011. http://www.mediaindonesia.com/read/2011/04/04/221528/126/101/Pukat-Trawl-Biang-Kerusakan-Terumbu-Karang-di-Deli-Serdang
Dibawah judul : Pukat Trawl Biang Kerusakan Terumbu Karang di Deli Serdang
LUBUK PAKAM–MICOM: Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia Kabupaten Deli Serdang, Sumatra Utara, menyatakan, aktivitas pukat trawl atau pukat hela telah merusak sejumlah terumbu kerang di perairan laut daerah itu. (alinea pembuka).
Disebutkannya, jumlah kapal pukat trawl yang beroperasi di wilayah perairan tersebut diperkirakan mencapai ratusan unit setiap hari dan sebagian besar milik pengusaha perikanan dari Belawan Medan. (alinea kelima).

Beberapa contoh kasus yang dikemukakan pada kondisi terkini dan masih banyak kasus-kasus lainnya. Harian Umum Kompas sudah mengemukan kondisi ini sejak tahun 1980-an, seperti kliping Koran yang penulis miliki terbitan Selasa, 3 Oktober 1989, dibawah judul : Banyak Kendala Menghapus “Trawl” di Kaltim, disini Kompas menulis a.l. usaha untuk menghapus pukat harimau (trawl) dari Kalimantan Timur menghadapi berbagai kendala, sehingga banyak pihak meragukan alat penangkap udang tersebut dapat benar-benar dihapuskan secara total. Sejak Keppres 39/1980 dikeluarkan sudah ribuan trawl yang disita dan dimusnahkan. Namun kenyataannya trawl masih banyak dioperasikan secara sembunyi-sembunyi. Hal ini disebabkan trawl dimiliki oleh nelayan kecil yang menggunakan kapal kecil dengan mesin ukuran kecil pula. Juga Selasa, 4 Juni 1991, dibawah judul : Ratusan Kapal Pukat Harimau Beroperasi Lagi, disini dikemukakan bahwa di Sumatera Utara trawl disamarkan sebagai purse seine. Artinya kapal perikanan dengan perizinan purse seine, namun alat penangkap ikan yang digunakan adalah trawl.

Nomenklatur

Meski alat penangkap ikan ini terdengar sangat menakutkan bagi kebanyakan orang di Indonesia, namun Pemerintah Republik ini sangat GAGAP dengan regulasi yang telah diambilnya. Hal ini dapat kita lihat dari nomenklatur yang digunakan secara resmi oleh Pemerintah, yaitu :
• trawl atau jaring trawl (Buku I : Standar Statistik Perikanan, 1975 dan Keppres Nomor 39 Tahun 1980),
• pukat harimau (SK Menteri Pertanian No. 503/KPTS/UMVII7/1980),
• Pukat tarik (SK Menteri Pertanian No. 503/KPTS/UMVII7/1980, Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap – Departemen Kelauatan Perikanan, 2002),
• Tangkul tarik (SK Menteri Pertanian No. 503/KPTS/UMVII7/1980),
• Jaring tarik (SK Menteri Pertanian No. 503/KPTS/UMVII7/1980),
• Jaring trawl ikan (SK Menteri Pertanian No. 503/KPTS/UMVII7/1980),
• Pukat Apollo (SK Menteri Pertanian No. 503/KPTS/UMVII7/1980),
• Pukat Langgei (SK Menteri Pertanian No. 503/KPTS/UMVII7/1980),
• Pukat udang (Keppres Nomor 85 Tahun 1982),
• Pukat tarik dasar (Badan Standardisasi Nasional [BSN], 2005), SNI-01-7088-2005;
• Pukat hela ikan (BSN, 2006), SNI-01-7232-2006;
• pukat hela arad (BSN, 2006), SNI-01-7233-2006;
• Pukat hela ganda udang (BSN, 2006), SNI-01-7235-2006;
• pukat hela (Permen Kelautan dan Perikanan Nomor PER.06 Tahun 2008 dan Badan Standardisasi Nasional [BSN], 2006),
• melihat dari tahun penggunaan nomenklatur tersebut, membuktikan bahwa sesungguhnya alat penangkap ikan jenis trawl ini masih diizinkan oleh Pemerintah dengan sebutan nama lain.
Nelayan menamakan dengan bermacam-macam sebutan antara lain :
• pukat harimau,
• pukat tarik,
• tangkul tarik,
• pukat hela,
• jaring tarik,
• jaring trawl ikan,
• pukat apollo,
• pukat lenggai
• jaring eret,
• lamparan dasar,
• mini trawl / trawl mini,
• cungking trawl,
• bagan trawl
• dan lain-lain.
Semua nama-nama atau sebutan di atas ditujukan untuk jenis trawl dasar atau bottom trawl. Sedangkan alat penangkap ikan ini berdasarkan posisinya penempatannya dalam operasi penangkapan ikan di perairan, dapat dibedakan menjadi 3 tipe yaitu :
1. Di dasar perairan, disebut bottom trawl atau trawl dasar.
2. Di dalam kolom air, disebut midwater trawl atau trawl pertengahan.
3. Di dekat permukaan perairan, disebut surface trawl (floating trawl) atau trawl permukaan.

Trawl pertengahan dan trawl permukaan dalam statistik perikanan Indonesia disebut “pukat tarik ikan” diterjemahkan ke Bahasa Inggris dengan nama fish net (Pedoman Pelaksanaan Pengumpulan Data Statistik Penangkapan Perikanan Laut, 2002 yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap Departemen Kelautan dan Perikanan). Sedangkan fish nets apabila kita terjemahkan kembali secara harfiah berarti jaring ikan. Secara umum, jaring ikan difahami oleh masyarakat dan nelayan dengan jaring insang (gill net) untuk menangkap ikan, karena jaring berkantong (seine) dikenal oleh masyarakat dan nelayan dengan istilah pukat (seine). Dimana nomenklatur ini tidak dikenal dalam tata nama alat penangkapan ikan yang diterbitkan dalam Bahasa Inggris, misal dalam International Standard Statistical Classification of Fishing Gears (ISSCFG) yang diterbitkan oleh FAO, alat penangkap ikan ini terdiri dari :

Kategori Alat Standar ISSCFG
Bottom trawls
– beam trawls
– otter trawls
– pair trawls
– nephrops trawls
– shrimp trawls
– bottom trawls (not specified)
Midwater trawl
– otter trawls
– pair trawls
– shrimp trawls
– midwater trawls (not specified)
Otter twin trawls
Otter trawls (not specified)
Pair trawls (not specified)
Other trawls (not specified)

Defenisi Trawl

Trawl merupakan alat penangkap ikan yang terbuat dari bahan jaring dengan mata jaring (mesh size) yang berbeda dan memiliki kantong (bag) berbentuk kerucut (atau segi empat) serta dua sayap (wings) yang merupakan perpanjangan dari dinding kiri dan kanan badan (body) jaring, sayap dihubungkan dengan tali selambar (warp line). Trawl dioperasikan dengan cara menarik jaring berkantong tersebut secara horizontal dengan menggunakan perahu / kapal perikanan dan jaring berkantong bergerak bersama-sama kapal, ikan (sumberdaya ikan) tertangkap karena penyaringan air oleh mulut jaring. Artinya, semakin banyak air yang tersaring atau dengan bukaan mulut yang maksimum akan menjadikan volume air yang tersaring selama waktu penarikan lebih besar jumlahnya dan hasil tangkapan secara teoritis semakin besar. Agar mulut jaring dapat terbuka dalam operasi penangkapan ikan dilakukan dengan cara-cara : (1) menggunakan gawang (beam) , (2) menggunakan sepasang alat pembuka dari papan panel (otter board), (3) ditarik oleh dua perahu/kapal perikanan, (4) karena panjang perahu layar yang digunakan (Broad side sailing), dan (5) menggunakan palang (rigging).

Menurut peraturan perundang-undangan di Indonesia (Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 503/Kpts/Um/7/1980 tanggal 10 Juli 1980 tentang Langkah-langkah Pelaksanaan Penghapusan Jaring Trawl Tahap Pertama), yang dimaksud dengan trawl adalah jenis-jenis jaring berbentuk kantong yang ditarik oleh sebuah kapal bermotor dan menggunakan alat pembuka mulut jaring yang disebut gawang (beam) atau sepasang alat pembuka (otter board) dan jaring yang ditarik oleh dua buah kapal bermotor. Jaring trawl ini dikenal dengan nama pukat harimau, pukat tarik, tangkul tarik, jaring trawl ikan, pukat apollo, pukat langgai dan sebagainya. Dan menurut Direktorat Jenderal Perikanan Departemen Pertanian, 1975. Ketentuan Kerja pengumpulan, Pengolahan, dan Penyajian Data Statistik Perikanan – Buku I : Standar Statistik Perikanan , trawl adalah jaring yang berbentuk kantong yang ditarik oleh satu atau dua kapal, baik melalui samping atau belakang kapal selama jangka waktu tertentu untuk menangkap ikan atau binatang air lainnya.

Dari bentuknya sebagai jaring berkantong, alat penangkap ikan trawl sama bentuknya dengan pukat kantong (seine) lainnya. Beberapa alat penangkap ikan berkantong yang banyak digunakan oleh nelayan di Indonesia adalah payang (pelagic danis seine), dogol dan alat sejenis seperti lampara dasar dan cantrang (demersal danish seine), pukat pantai (beach seine). Ketiga alat penangkap ini dalam operasi penangkapan ikan merupakan alat aktif seperti halnya trawl, sedangkan yang pasif antara lain, muroami dan jermal (stow net).

Konstruksi dari badan jaring alat penangkap ikan trawl terdiri dari (1) dua sayap (wings) yang merupakan perpanjangan dari badan jaring, (2) Kantong, umumnya berbentuk kerucut, dan untuk yang sederhana (seperti beam trawl) ada yang berbentuk segi empat. Kantong terdiri dari : (1) square, yaitu dinding bagian atas jaring yang menjorok kedepan, sehingga lebih panjang dari dinding bagian bawah, (2) badan jaring (baiting / belly), dan (3) cod-end.

Surface Trawl / Floating Trawl :
Surface trawl / Floating trawl atau trawl permukaan adalah trawl yang ditarik pada permukaan perairan atau pelampung (head rope) berada pada permukaan perairan. Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap Departemen Kelautan dan Perikanan RI menamakan alat ini dengan pukat ikan (fish net). Ikan yang menjadi tujuan penangkapan adalah ikan-ikan yang beruaya pada dekat permukaan perairan (ikan pelagis). Umumnya ikan-ikan pelagis kecil seperti sardine dan teri, karena ikan-ikan ini berenang dekat pada permukaan perairan dan bukan dari jenis ikan perenang cepat. Sementara untuk ikan-ikan pelagis besar seperti tuna dan cakalang merupalan ikan-ikan perenang cepat (good swimmer), maka ikan-ikan ini sulit untuk ditangkap dengan trawl permukaan.

Kesulitan dalam mengoperasikan trawl permukaan untuk ikan-ikan pelagis besar karena untuk dapat menangkap ikan-ikan membutuhkan kecepatan penarikan alat lebih cepat dari kecepatan renang ikan tersebut. Hal ini menyebabkan perahu/kapal perikanan akan mendapat resistence (tahanan) yang besar dari badan jaring, sehingga membutuhkan daya mesin (HP = horse power) yang besar.

Midwater Trawl :
Mid-water trawl atau trawl pertengahan merupakan trawl yang ditarik pada kedalaman tertentu dari perairan secara horizontal dimana pada kedalaman tersebut diduga sebagai area renang dari ikan atau ada ikan berdasarkan alat pendeteksi ikan yang menjadi tujuan penangkapan (mid-layer swimming fish). Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap Departemen Kelautan dan Perikanan RI menamakan alat ini dengan pukat ikan (fish net). sedangkan BSN menamakan alat ini dengan pukat hela ikan atau mid water otter board trawl (SNI-01-7232-2006). Pengoperasian trawl ini memerlukan perhitungan yang rumit dan sangat teliti agar mulut trawl dapat terbuka secara optimal dan alat tetap berada pada kedalaman yang direncanakan selama penarikan. Alat ini secara komersial digunakan untuk menangkap ikan pelagis kecil seperti ikan hering, seperti di Negara-negara Eropa Utara, Kanada dan lain-lain.

Bottom Trawl :
Bottom trawl atau trawl dasar adalah trawl yang ditarik pada dasar perairan, dan ikan yang menjadi tujuan penangkapan adalah ikan-ikan dasar (demersal fish), termasuk udang-udangan dan kerang-kerangan. Trawl dasar lebih dikenal dengan nama shrimp trawl, karena pengoperasiannya terutama ditujukan untuk menangkap udang (shrimp). Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap Departemen Kelautan dan Perikanan RI menamakan alat ini dengan pukat tarik, sedangkan BSN menamakan alat ini antara lain dengan (1) pukat tarik dasar (SNI-01-7088-2005[beam atau otter board bottom trawl], SNI-01-7089-2005 [beam atau otter board bottom trawl], SNI-01-7091-2005 [small bottom trawl net], SNI-01-7233-2006 [bottom otter board trawl]; (2) pukat hela ganda udang atau double rig shrimp trawl (SNI-01-7235-2006). Di Indonesia, disebabkan alat penangkap ikan ini tidak selektif sehingga dapat menangkap semua jenis ikan demersal, sehingga lebih populer dengan sebutan pukat harimau. Untuk menangkap kerang-kerangan disebut dredges, yaitu trawl dengan kerangka dan alat penggerus lumpur.

Dalam operasi penangkapan ikan badan jaring trawl akan ditarik di dasar perairan, maka sutau area perairan yang akan menjadi daerah penangkapan ikan dari bottom trawl haruslah memenuhi persyaratan sebagai daerah penangkapan ikan dari bottom trawl. Dimana dalam operasinya akan terjadi gesekan langsung dengan dasar perairan yang dapat mengakibatkan badan jaring rusak/koyak, sehingga ikan hasil tangkapan akan terlepas kembali (terbuang). Untuk itu, dasar perairan yang disyaratkan untuk dapat mengoperasikan bottom trawl adalah perairan dengan dasar berlumpur, berpasir atau lumpur berpasir dan tidak berterumbu karang serta harus bebas dari bekas-bekas tiang atau kapal tenggelam atau terumbu karang buatan atau benda-benda lainnya yang dapat menghalangi pengoperasian alat. Demikian juga, karena badan jaring akan ditempatkan di dasar perairan, maka kedalaman perairan relatif sama atau dasar perairan relatif datar dan tidak terdapat perbedaan kedalaman yang besar. Hal ini diperlukan karena kedalaman penempatan badan jaring akan ditentukan oleh panjang tali selambar (warp rope).

Persayaratan daerah penangkapan ikan (fishing ground) untuk bottom trawl adalah sebagai berikut :
(1) dasar perairan daerah penangkapan ikan terdiri dari lumpur, pasir atau lumpur berpasir dan bebas dari benda-benda yang dapat menghalangi penyapuan dasar perairan oleh jaring trawl seperti terumbu karang, kapal tenggelam, tiang-tiang bekas bangunan laut dan lain-lain yang dapat merusak jaring.
(2) merupakan habitat dari sumberdaya ikan demersal, dimana perubahan lingkungan perairan laut terhadap sumberdaya hayati dasar laut relatif kecil sehingga tersedia sumberdaya ikan yang kontinu untuk diusahakan.
(3) produktivitas perairan tinggi dan sumberdaya ikan yang besar.

Bottom trawl dapat dioperasikan pada kedalaman :
a. kedalaman 10 – 20 meter untuk trawl kecil (small trawl),
b. kedalaman 20 – 40 meter untuk trawl sedang (medium trawl), dan
c. lebih dari 40 meter untuk trawl besar (big trawl).

Sejarah Perkembangan Trawl di Indonesia

Percobaan penggunaan trawl di Indonesia dimulai sejak masa penjajahan Belanda tahun 1907 dengan menggunakan “Kapal Penjelidik Gier” yang dilakukan oleh ahli trawl Belanda von Roosendal di Laut Jawa, Laut Cina Selatan dan Selat Makasar. Penelitian ini dianggap gagal karena tidak ditemukannya ikan dasar (gronvis) yang menjadi tujuan penelitian yaitu ikan sebelah (Psettodes erumei) dan ikan lidah (Cynoglosus sp.) yang bernilai ekonomis di negeri kincir angin tersebut. Penelitian ini terus dilakukan dengan menggunakan kapal-kapal kecil. Setelah berakhir Perang Dunia II penelitian penangkapan dengan menggunakan trawl diulang kembali oleh Wettenberg di Perairan Makasar (Hardenberg, 1950 dan Balai Penelitian Perikanan Laut/BPPL, 1990).

Sesudah penyerahan kekuasaan tanggal 27 Desember 1949, percobaan penangkapan ikan dengan menggunakan trawl dilakukan oleh Jawatan Perikanan Laut Pusat yang dipimpin oleh ahli trawl dari Belanda, Schol pada tahun 1950. Percobaan ini bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup nelayan (Fauzi, 1980). Kemudian sejak tahun 1951 percobaan-percobaan penangkapan ikan dengan menggunakan trawl dilakukan oleh Yayasan Perikanan Laut Surabaya dengan KM Ardjuna, KM Gandamana, KM Lentjam dan KM GB 3 (BPPL, 1990).

Tahun 1956 Moh. Unar menyampaikan ide untuk memanfaatkan sumberdaya udang di Perairan Indoensia secara industry (Unar, 1956). Dan tahun 1957, dibawah pimpinan Butler, seorang ahli trawl dari FAO yang diperbantukan pada Jawatan Perikanan Laut Pusat melakukan percobaan penangkapan udang dengan trawl di Perairan Pantai Kalimantan Timur dengan “Kapal Muna”. Percobaan ini menghasilkan hasil yang memuaskan dengan ditemukannya daerah konsentrasi udang di dekat Tanjung Maru (Selatan Balikpapan) pada kedalaman 10 meter. Penarikan yang dilakukan selama satu jam dalam percobaan ini menghasilkan 100 kg udang dengan kualitas baik (Anonim, 1957 dan BPPL, 1990). Penelitian oleh Jawatan Perikanan Laut Pusat dilakukan sampai tahun 1961.

Tahun 1965 dilakukan Simposium Udang Pertama. Simposium menyimpulkan bahwa pemanfaatan sumberdaya udang di Indonesia memberikan harapan yang baik, untuk itu masih diperlukan penelitian-penelitian dan koordinasi badan terkait.

Namun ironisnya, pemanfaatan sumberdaya udang secara komersial dengan alat penangkap ikan trawl dikembangkan di Indonesia bukan berdasarkan hasil-hasil percobaan dan penelitian yang dilakukan oleh lembaga resmi pemerintah diatas dan koordinasi badan terkait, akan tetapi diintrodusir oleh nelayan Bagansiapi-api dari nelayan Singapura sekitar tahun 1964. Dan secara komersial penangkapan udang di Bagansiapi-api dimulai tahun 1966 (Asikin, 1978 dan Naamin, 1978). Nelayan Bagansiapi-api menggunakan trawl mini dengan tonnage berkisar 3 – 25 GT dan kekuatan mesin 16 – 20 DK.

Kemudian tahun 1968 mulai menyebar ke utara dan membuka basis operasi di Sumatera Utara dan tahun 1969 sampai di Aceh, terus ke selatan ke Laut Jawa (1971) dan pada tahun 1973 sudah sampai ke Sulawesi. Akhirnya alat penangkap ikan trawl menyebar ke seluruh perairan Indonesia. Karena alat penangkap ikan ini mulai dioperasikan di Bagansiapi-api dengan menggunakan kapal perikanan tipe Bagansiapi-api yang dikenal dengan kapal cungking, maka trawl ini disebut “trawl bagan” atau “cungking trawl”.

Penyebaran yang merata ke seluruh perairan Indonesia dipicu oleh tingginya permintaan pasar dunia terhadap udang serta cukup tingginya harga jual udang. Sehingga tahun 1968, sebuah perusahaan joint venture mulai pula mengadakan survey dan diikuti aktual fishing di Perairan Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Tahun 1969 diikuti oleh beberapa perusahaan joint venture lainnya di Perairan Arafura dan Pantai Timur Sumatera (Jambi dan Sumatera Selatan).

Maka dimulailah era perikanan tangkap industry di Indonesia.

Tingginya harga udang di pasaran dunia dan permintaan yang selalu meningkat serta sumberdaya yang besar di Indonesia, menyebabkan semakin banyak pengusaha yang menanamkan modalnya dalam bidang perikanan tangkap dengan alat penangkap ikan trawl. Baik Penanaman Modal dalam Negeri (PMDN) maupun Penanaman Modal Asing (PMA), sehingga alat penangkap ikan trawl berkembang dengan pesat.

Opini Masyarakat Indonesia

Opini di masyarakat Indonesia mulai dari nelayan, aktivis, orang awam sampai para sarjana perikanan, bahkan sebagian akademisi pada umumnya menganggap trawl merupakan alat penangkap ikan yang merusak habitat ikan, terutama terumbu karang. Tentunya opini ini tidak berlaku pada nelayan yang menggunakan trawl sebagai alat penangkap ikan. Seperti yang dikemukakan oleh :
1. nelayan di Provinsi Lampung (http://www.antaranews.com/berita/1291307169/pendapatan-nelayan-pesawaran-turun-akibat-maraknya-trawl, Kamis, 2 Desember 2010 23:26 WIB)
Ia menerangkan, alat tangkap trawl adalah jenis alat tangkap ikan dengan jaring hingga ke dasar laut yang dikaitkan di belakang kapal dalam kondisi berjalan sehingga dapat menjaring seluruh ikan yang ada, baik kecil ataupun besar. Hal itu juga dapat merusak terumbu karang sehingga ikan-ikan yang hidup disekitarnya menjadi berkurang dan tentunya berefek pada nelayan tradisional.
2. Nelayan di Provinsi Bengkulu (http://www.bisnis-sumatra.com/index.php/2011/04/pukat-harimau-mengganas-di-mukomuko/, Apr 22nd, 2011). Ketua Nelayan Tradisional Kecamatan Ipuh Saradi di Mukomuko, Jumat 22 April 2011, “aktivitas pencurian ikan di perairan nelayan tradisional masih tetap saja terjadi, bahkan saat ini kapal yang mengunakan pukat yang merusak terumbu karang itu mencapai 20 unit. Ia menjelaskan, tindakan pengusaha yang mengunakan kapal pukat trawl tidak bisa dibiarkan karena bisa menganggu aktivitas melaut nelayan tradisonal yang hampir tidak pernah mendapatkan hasil yang maksimal. “Pemerintah jangan hanya diam saja melihat kondisi ini, jika tidak diselesaikan sekarang, maka perairan nelayan tradisonal akan hancur akibat terumbu karang sebagai sarang ikan sudah punah,” urainya.
3. Aktivis HNSI Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara. (http://www.mediaindonesia.com/read/2011/04/04/221528/126/101/Pukat-Trawl-Biang-Kerusakan-Terumbu-Karang-di-Deli-Serdang, Kamis, 28 April 2011 03:42 WIB). Sebagian besar terumbu kerang di perairan Deli Serdang sudah rusak akibat kegiatan pukat trawl,” kata Sekretaris Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Deli Serdang M Sahri di Lubuk Pakam, Rabu (27/4). Kerusakan terumbu karang, lanjut Sahri, turut menyebabkan volume hasil tangkapan nelayan di pesisir kabupaten itu semakin merosot. “Pendapatan nelayan tradisional di pesisir Deli Serdang dewasa ini cukup memprihatinkan, karena ikan semakin sulit diperoleh,” ucapnya.
4. Menteri Kelautan dan Perikanan, Fadel Muhmmad dalam menanggapi penangkapan 2 kapal trawl Malaysia oleh Pengawas Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan yang sempat diminta untuk dilepaskan oleh Penjaga Laut Malaysia dengan menggunakan helicopter beberapa waktu yang lalu (2011), yang ditayangkan oleh beberapa TV swasta dalam program beritanya mengatakan bahwa trawl itu dilarang penggunaannya di Indoensia karena merusak terumbu karang yang merupakan habitat ikan.

Pendapat yang mengatakan bahwa trawl (khususnya bottom trawl) merusak terumbu karang merupakan kesalahan terbesar yang diucapkan berulang-ulang oleh aktivis, birokrat dan akademisi yang tidak memahami dengan metode penangkapan ikan dengan alat penangkap ikan trawl. Pendapat yang berulang-ualng tersebut seolah-olah sebuah kebenaran, sehingga sebagian nelayan yang memang sudah miskin dalam penguasaan sarana penangkapan ikan, juga mengatakan bahwa kemiskinannya disebabkan oleh digunakannya trawl untuk menangkap ikan oleh nelayan lainnya. Disini terlihat, bahwa logika yang dimiliki akal yang dianugerahkan oleh Tuhan Yang Masa Esa tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diatas telah dikemukakan bahwa salah satu persayaratan daerah penangkapan ikan (fishing ground) untuk bottom trawl adalah perairan dengan dasar perairan terdiri dari lumpur, pasir atau lumpur berpasir dan bebas dari benda-benda yang dapat menghalangi penyapuan dasar perairan oleh jaring trawl seperti terumbu karang, kapal-kapal tenggelam, tiang-tiang bekas bangunan laut dan lain-lain yang dapat merusak jaring.

Kenapa harus bebas dari terumbu karang, kapal tenggelam, dan tiang-tiang bekas bangunan laut ? Karena jaring trawl dioperasikan dengan cara ditarik oleh kapal yang sedang bergerak, maka dalam penyapuan dasar perairan tidak boleh ada yang menghalangi (persayaratan ini juga berlaku bagi alat penangkap ikan berupa pukat yang dioperasikan secara aktif dengan cara menarik jaring pukat ke kapal atau ke pantai, seperti payang, dogol dan pukat pantai/darat). Jika ada yang menghalangi seperti disebutkan di atas, maka penangkapan ikan akan gagal karena jaring tersangkut atau robek.

Terumbu karang merupakan koloni dari berbagai macam spesies karang yang masih hidup yang tumbuh diatas kerangka karang-karang lainnya yang telah mati dan membatu membentuk batu karang. Karang sendiri merupakan biota sederhana dari Phylum Coelenterata dan hidup secara menetap seperti halnya tumbuh-tumbuhan di darat. Terumbu karang merupakan habitat beberapa jenis ikan. Akan tetapi ikan atau sumberdaya ikan yang mejadi tujuan penangkapan ikan dengan alat penangkap ikan trawl, habitatnya bukan terumbu karang.

Seperti dikemukan di atas (lihat : Sejarah Perkembangan Trawl di Indonesia), trawl (sebutan atau nama yang benar adalah trawl dasar / bottom trawl) ditujukan untuk menangkap udang penaeid, yaitu jenis krustase atau udang-udangan. Udang panaeid merupakan hewan yang hidup di dasar perairtan dengan dasar habitat lumpur, lumpur berpasir atau pasir. Jenis yang bernilai ekonomis antara lain udang jerbung ( Penaeus merguensis [de Man, 1888] dan P. indicus [Milne Edwars, 1837]), udang windu (P.monodon [Fabricus,1798], P. Semisulcatus [de Haan, 1850] dan P.esculentus [Haswell, 1879]) udang dogol (Metapenaeus endeaveour [Scmitt, 1926]; M. ensis [de Hann, 1850] dan M. monoceros [Fabricius, 1798]), udang krosok (Parapenaeus sculptitis [Heller, 1862]) dan udang raja/udang ratu (Penaeus latisulcatus [Kishinnouye, 1896]). Sedangkan jenis udang yang hidup di terumbu karang adalah udang barong atau udang karang (Panulirus versicolor [Latreile, 1804]). Udang karang ini termasuk sumberdaya ikan yang bernilai ekonomis tinggi, tetapi dipasarkan dalam keadaan hidup, sehingga tidak mungkin ditangkap dengan trawl dasar.

Jadi statemen dari aktivis, birokrat dan akademisi yang menyatakan bahwa trawl (dasar) merusak terumbu karang sebagai habitat ikan adalah sangat keliru dan tidak berdasar !

Opini kedua adalah bahwa trawl dasar menghabiskan semua biota dasar, bahkan sampai ke telur-telurnya. Pendapat ini juga tidak sepenuhnya benar. Sesungguhnya, setiap alat penangkap ikan mempunyai efek negative, karena sifatnya eksploitatif. Eksploitasi yang berlebihan melampau daya dukung tentu akan mengganggu kelestarian sumberdaya. Penelitian ilmiah telah membuktikannya, antara lain, penelitian Gibbs et al (1980) yang melakukan sampling kuantitatif dan obeservasi bawah air terhadap fauna makrobentik dengan otter trawl udang di Perairan Australia Selatan. Dari hasil penelitiannya, Gibbs et al menyimpulkan bahwa alat penangkap ikan trawl tidak mengakibatkan perubahan fauna makrobentik di daerah penangkapan trawl. Hal ini merupakan indikasi bahwa trawl tidak membahayakan kelestarian sumberdaya ikan dasar. Sebab, seandainya trawl merusak kelestarian sumberdaya ikan dasar, maka seharusnya semua alat penangkap ikan yang menyapu dasar perairan seperti trawl, yaitu pukat pantai/darat, dogol, dan sejenisnya tentu mempunyai daya rusak yang sama, karena tekhnik dan metodenya sama. Naamin (1983) mengemukakan bahwa sebenarnya alat tangkap trawl ini tidaklah sejelek yang diisukan, bila mata jaringnya (mesh size) tidak terlalu kecil dan jumlah unit alat penangkapnya tidak melampaui potensi lestari suatu daerah penangkapan ikan.

Permasalahan utam dalam beroparasinya trawl adalah banyak hasil samping dari penangkapan udang dengan trawl dasar. Karena sumberdaya yang tertangkap oleh trawl selain udang yang menjadi tujuan penangkapan, umumnya dibuang kembali ke laut. Sumberdaya ini tentu akan mubazir dan terbuang percuma, keadaan ini akan menjadi konflik dengan nelayan penangkap ikan, jika alat penangkap ikan trawl ini beroparasi di perairan pantai (4 mil).

Jadi daya rusak trawl atau alat penangkap ikan lainnya bukan pada alatnya, akan tetapi pada regulasi dan sistem monitoring dan pengawasan terhadap regulasi yang telah diambil oleh regulator (rezim Negara).

Daftar Bacaan :

ANONIM. 1957. Pertjobaan Penangkapan Udang dengan Trawl di Pantai Kalimantan Timur. Berita Perikanan, XI (5-6). Djawatan Perikanan Laut dan Djawatan Perikanan Darat, Djakarta. Hal. 67.
ASIKIN, D. 1978. Mengikuti Perkembangan Trawl (Udang) Bagan di Indonesia. Pros.Sem. ke-II Perikanan Udang. Lembaga Penelitian Perikanan Laut-Balai Penelitian dan Pengembangan Perikanan Departemen Pertaanian, Jakarta. Hal. 83-97.
AYODYOA. 1981. Metode Penangkapan Ikan. Yayasan Dewi Sri. Bogor. 97 hal.
Balai Penelitian Perikanan Laut (BPPL). 1990. Balai Penelitian Perikanan Laut: Sejarah, Kedudukan Organisasi, Peranan dan Hasil Penelitian. Pusat Penelitian Pengembangan Perikanan-Pusat Penelitian Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian, Jakarta. 119 hal.
DJPT-DKP. 2004. Kalsifikasi Ikan Laut untuk Statistik Perikanan Tangkap. Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap Departemen Kelautan dan Perikanan. Jakarta.167 Hal.
FAUZI, S. 1980. Trawl, Perkembangan dan Permasalahannya di Indonesia. Karya Ilmiah. Fakultas Perikanan Institut Pertanian Bogor, Bogar. 180 hal.
GIBBS , P.J., A.J. Collins dan L.C.Collets. 1980. Effect of Otter Prawn Trawling on the Macrobenthos of a Sandy Subratum in a Sandy Subratum in a New South Wales Estuary. Aust.J.Mar.Freshwater Res. 31. Pp.309-15.
HARDENBERG, J.D.F. 1950. Ictisar Ringkasan Sedjarah Penjelidikan Laut dan Perikanan Laut di Perairan Indonesia. (Ichtisar oleh Walujo Subani, 1957). Berita Perikanan XI (5-6). Djawatan Perikanan Laut dan Djawatan Perikanan Darat, Djakarta. Hal. 63 – 67.
http://bangka.tribunnews.com/2011/04/03/tiga-kapal-trawl-ditangkap
http://www.bisnis-sumatra.com/index.php/2011/04/pukat-harimau-mengganas-di-mukomuko/
http://www.antaranews.com/berita/1291307169/pendapatan-nelayan-pesawaran-turun-akibat-maraknya-trawlhttp://www.antaranews.com/berita/1291307169/pendapatan-nelayan-pesawaran-turun-akibat-maraknya-trawl
http://www.bisnis-sumatra.com/index.php/2011/04/pukat-harimau-mengganas-di-mukomuko/
http://www.mediaindonesia.com/read/2011/04/04/221528/126/101/Pukat-Trawl-Biang-Kerusakan-Terumbu-Karang-di-Deli-Serdang
http://www.padang-today.com/?mod=berita&today=detil&id=26964



Mukhtar APi. 2011. Satu Kapal Illegal Fishing Malaysia di Tangkap. grup facebokk : Corps Pengawas Perikanan Indonesia.
Mukhtar APi. 2011. Kapal Diduga Izin Palsu di Tangkap. grup facebokk : Corps Pengawas Perikanan Indonesia.
NAAMIN, N. 1978. Perkembangan Perikanan Udang di Indonesia. Pros.Sem.ke-II Perikanan Udang, Jakarta Maret 1977. Jilid II : Makalah-makalah. Lembaga Penelitian Perikanan Laut-Balai Penelitian dan Pengembangan Perikanan Departemen Pertanian, Jakarta. Hal. 55-65.
_______. 1983. Masalah-masalah yang dihadapi dalam Pelaksanaan Kepres 39/1980 tentang Penghapusan Jaring Trawl. Pros.Workshop Sos.Ek.Perik.Indonesia, 2-4 Nopember 1982. Departemen Pertanian, Jakarta. Pros.No.3/WSEP/1983. Hal.209 – 40.
NÉDÉLEC, C. dan J.PRADO. 1990. Defenition and Classification of Fishing Gear Categories. FAO Fisheries Technical Paper 222 Rev.1. Rome. 92 p.
UNAR, Moh. 1956. Trawl Udang di Teluk Mexico dan Pantai Atlantik Selatan dari Amerika Serikat. Berita Perikanan, VIII (4-5). Djawatan Perikanan Laut dan Djawatan Perikanan darat, Djakarta. Hal. 63-64.

Dipublikasi di Alat penangkap ikan, Bottom trawl, Capture Fisheries, Fishing gears, Pembangunan Nasional, Peraturan Perikanan, Perikanan (Fisheries), Perikanan Laut, Perikanan Tangkap, Sejarah, Trawl, Trawl dasar | Meninggalkan komentar

Marhaban Ya Ramadhan

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan kepada kamu berpuasa sebagaimana yang telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu. Mudah-mudahan kamu menjadi taqwa. (QS. Albaqarah, 2 : 183).

Bulan Ramadhaan permulaannya (mengandung) rahmat, pertengahannya (memberikan) ampunan, maghfirah dan ujungnya membebaskan (yang brepuasa) dari neraka (HR. Ibnu Khuzaimah dari Salman Al-Farisy).

Setelah menghilang 300 hari lamanya dari kehidupan masyarakat Muslim dunia, maka kekasih bulan Ramadhan muncul kembali dengan wajah segar dan tetap membawa kegairahan dan kebahagiaan. Untuk menyambut kehadirannya kembali kaum Muslimin di seluruh dunia mengucapkan : MARHABAN YA RAMADHAN !

Bulan Ramadhan mengandung berbagai keistimewaan. Diantaranya sebagai :
1) Bulan beribadah (Syahrul ibadah), sebab selain ummat Islam menunaikan ibadah puasa sebagai salaah satu tiang tonggak (pilar) Islam, pun terbuka kesempatan melaksanakan ibadah-ibadah lain;
2) Bulan turunnya petunjuk (Syahrul Huda);
3) Bulan pengampunan (Syahrul Ghufran);
4) Bulan perjuangan (Syahrul jihad), dimana kaum muslimin berlatih mengendalikan diri;
5) Bulan kemenangan (Syahrul-Fath), sebab pada bulan Ramadhan kaum Muslimin mencapai kemenangan sebagai hasil kemampuan mengendalikan diri, juga dalam bula Ramadhan itu di zaman dahlu penuh mengandung hasil-hasil berupa kemenangan.

Falsafah dan Hikmah Puasa

Sebagaimana tiap-tiap ibadah daalam Islam mengandung nilai-nilai untuk kehidupan pribadi dan masyarakat, demikian juga ibadah puasa Ramadhan itu mengandung falsafah dan hikmmat yang dalam, dampak yang positif. Dalam garis besarnya dapat dilihat dari empat sisi yang mendatangkan manfaat.

a) Manfaat Sosial (Social benefits)

Seperti diketahui, salah satu masalah sosial dunia yang terbesar adalah kemiskinan, dimana kelaparan membawa akibat melanda perikemanusian. Persoalan ini harus ditanggulangi secara terpadu. Diantaranya dengan membangun nilai-nilai sosialistis supaya ummat manusia saling meletakkan saham dan berperan. Orang-orang yang mampu dan kaya (the haves) haruslah mengulurkan tangan membantu orang-orang yang lemah dan tidak berpunya (the haven’t). Ini adalah persoalan manusia dan manusiawi.

ajaran Agama Islam melalui ibadah puasa menggugah keum muslimin yang mampu dan lapang untuk menolong orang-orang yang miskin dan melarat. Setiap Muslimin/Muslimat semakin terguguh mengulurkan tangan petolongan, sebab sebagai hasil kesadaran berpuasa, mereka mengalami sendiri bagaimana pahit-getirnya tekanan kelaparan, yang pada waktu ini ummat manusia di dunia ini sebagian besar hidup di bawah garis kemiskinan. Dari sisi sosial ini, doktrin Islam turut mengambil bagian partisipasi menanggulangi kelaparan/kemiskinan itu.

b) Manfaat Jasmaniah (physical benefits)

Ahli-ahli kesehatan menyatakan bahwa jasmani manusia tak obahnya seperti mesin yang sewaktu-waktu perlu diservis suapaya fungsi mesin itu tetap optimal. Demikian juga jasmani manusia harus diservis dengan mengosongkan perut besar (stomach) pada suatu waktu yang tertentu, dan disinilah peran puasa yang mewajibkan setiap Muslim/Muslimat yang beriman tidak makan dan minum di waktu siang hari selama satu bulan. Sehingga jasmaninya semakin sehat, fit dn akhirnya bergairah menghadapi kehidupan. Bukankah ada peribahasa yang mengatakan : “dalam jamani yang sehat terdapat pikiran yang segar dan cerdas ?”

c) Manfaat Moral (moral benefits)

Berkat latihan puasa satu bulan, hal ini secara praktis merupakan saatu latihan disiplin untuk meningkatkan moral manusia. Kita menyadari bahwa moral itu merupakan faktor yang penting dalam kehidupan manusia. Munusia yang sedang mengerjakan ibadah puasa itu, secara sadar menahan diri dari makan, minum dan lain-lain, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ini adalah satu pendidikan disiplin yang didorong dari daalam dirinya sendiri, hati nurani.

Kita belajar dari kenyataan, sejarah dan lain-lain, bahwa moral disiplin itu adalah faktor utama yang menentukan dalam kehidupan umat manusia.

d) Manfaat Kejiwaan (spritual benefits)

Seperti dijelaskan dalam Al-Quran (2:183), puncak tujuan ibadah puasa itu ialah untuk menciptkan manusia yang taqwa. Taqwa itu adalah taraf yang tertinggi dari spritual (kerohanian), sebab di dalam sikap jiwa yang taqwa terkandung untus-unsur yang membuat diri sendiri menjdai hidup dan menghidupkan pula kepada masyarakat dan lingkungannya. Jiwa taqwa menjadikan seseorang siap berkurban untuk kepentingaan umum dan kemanusiaan.

Agama-agama sebelum Islam mencari kesediaan berkurban untuk kepentingan umum menyiksa diri sendiri dengan bermacam-macam cara. Agama Islam menetapkan jalan-jalan yang mudah untuk melatih diri berkurban dengan jalan mengerjakan puasa, yang merupakan jalur hubungan mendekatkan diri kepad Pencipta manusia itu sendiri. (“Islam ideology and the way of life”oleh Afzalur Rahman, hal 124s.d.134).

Foto : Masjid Jami’ Kayuagung, Kecamatan Kota Kayuagung, Kabupaten OKI, Sumatera Selatan, Indonesia.
Tulisan : H.M. Yunan Nasution dalam Buletin Dakwah Noor 18 Tahun ke-XIV Sya’ban 1407 H/April 1987M.

Dipublikasi di Akhlak, Inspirasi, Islam | 2 Komentar