Mimpi Rosihan Arsyad di Tanjung Api-api

Artikel ini merupakan copas dari artikel Rosihan Arsyad, Gubernur Sumatera Selatan 1998 – 2003 yang dimuat di Sriwijaya Post, 1 Nopember 2012 http://palembang.tribunnews.com/2012 / 11/01/mimpi-naik-sepur-ke-tanjung-api-api

dengan judul “Mimpi Naik Sepur ke Tanjung Api-api”.

Foto: Rosiha Arsyad.
Saat Audiensi dengan Wedland International.

Oleh: Rosihan Arsyad
Gubernur Sumsel 1998-2003

“I have a dream” – Aku Punya Mimpi . Pekik Martin Luther King, Jr pada 28 Agustus 1963, menyerukan kesamaan ras dan pengakhiran diskriminasi. Saat itu, orang hitam Amerika diperlakukan tidak setara, bahkan tidak bisa masuk restoran orang kulit putih. Pidato yang dikumandangkan dari tangga The Lincoln Memorial saat demonstrasi di Washington
menuntut lapangan pekerjaan dan kebebasan merupakan momen yang menentukan dalam Gerakan Hak-hak Warga Amerika.

Sekarang, persamaan hak telah nyata, bahkan Presiden Amerika Serikat adalah keturunan Afrika, dari bapak yang berasal dari Kenya. Tidak ada yang bisa meragukan kekuatan “mimpi”, bahkan khayalan. Mungkin ada yang ingat cerita Flash Gordon? Komik karya Alex Raymond (terbit pertama 7 Januari 1934) berkisah tentang seorang pemain polo tamatan Universitas Yale yang berkelana ke ruang angkasa, mencari penyebab hujan meteor di bumi, bahkan Flash Gordon mencapai tata surya lain mengendarai kapal ruang angkasa yang lebih cepat dari cahaya. Dahulu hanya mimpi, tetapi sekarang, perjalanan ke ruang angkasa bukan hanya oleh AS dan Rusia, tetapi juga China, India, Eropa dan Iran!

Merencanakan Masa Depan
Dulu kita berani bermimpi dan tak gentar mewujudkannya.
Tidak punya apa-apa berani mimpi dan berjuang bersama untuk merdeka. Saat merdeka kita tidak punya birokrasi, tidak punya uang, tapi bertahan dan meskipun mungkin seharusnya bisa lebih cepat, Indonesia berkembang dan maju.

Sekarang tidak perlu mimpi, tapi harus mau merencanakan masa depan dengan mempraktekkan teori perubahan sosial mengenai “Belajar Dari Masa Depan” – “Learning From the Future “atau teori” the U Process “yang dikembangkan oleh Prof Otto Scharmer dari Massachusetts Institute of Technology.

cacat menciptakan masa depan seperti yang kita inginkan dimulai dengan melakukan sensing, mendengarkan secara seksama aspirasi dan keinginan pemangku kepentingan, yang kemudian dikembangkan menjadi sebuah prototip untuk memeriksa kesahihannya.

Belajar dari masa depan bukan hanya untuk hal-hal yang kasat mata (tangible) tetapi juga untuk yang tidak kasat mata (intangible) seperti pelestarian lingkungan.

Misal, siapa dulu mengira emisi karbon mengakibatkan penipisan lapisan ozone yang bermuara pada pemanasan global dan perubahan iklim? Ini salah satu contoh bagaimana permasalahan hari ini sering diakibatkan oleh solusi yang kita anggap tepat pada masa lalu. Untuk memudahkan kerja manusia diciptakan mesin termasuk berbagai kendaraan berbahan bakar fosil, yang ternyata menyebabkan emisi karbon, mengikis lapisan ozone. Sebuah konsekuensi yang bukan saja tak terbayangkan, tapi juga tidak diperkirakan, unintended consequences!

Mari kita mulai merencanakan masa depan dengan hal-hal yang mudah, namun bermanfaat. Transportasi misalnya. Saya pernah bermimpi sangat sederhana, Palembang-Indralaya dihubungkan oleh jalan tol. Tapi sayang, gayung tak bersambut. Pemerintah pusat melalui Jasa Marga mendukung setengah hati, dengan dalih belum cukup volume kendaraan (seingat saya disebut angka 20.000 kendaraan perhari) untuk layak membuat jalan tol. Kita lupa bahwa kadang-kadang harus menggunakan prinsip trade follow the road. Artinya, kalau transportasi tersedia, perdagangan akan meningkat.

Contoh nyata, tol Jagorawi, tidak dibayangkan akan seramai sekarang. Sehari, 400 ribu mobil masuk Jagorawi. PT Jasa Marga Tbk, mengungkapkan lalu lalang kendaraan di seluruh ruas tol milik perusahaan hingga akhir 2011 diperkirakan mencapai 1,07 miliar, pada 2012 menjadi 1,11 miliar unit!

Dengan pembangunan Jagorawi, wilayah selatan Jakarta berkembang. Cibubur, Cimanggis, Sentul, Sentul Selatan, bahkan Bogor, Ciawi sampai Lido pun turut berkembang. Coba kalau tahun 2002 jalan tol Indralaya Palembang jadi dibangun, investor sudah untung besar, hubungan lancar, wilayah sepanjang Palembang-Indralaya lebih pesat berkembang.

Jalan Sepur ke Tanjung Api-Api
Ironisnya, jangankan yang masih berupa mimpi, pelabuhan Tanjung Api-Api yang sudah jelas pun masih belum dibangun.
Batubara yang akan diangkut sudah jelas. PTBA menjamin jumlah dan volume angkutan yang cukup untuk mengembalikan investasi, bahkan ada untung. Perusahaan swasta India mau membangun pelabuhan yang dimaksud dan karena investasi langsung rasanya tidak perlu jaminan pemerintah.

Head of Agreement sudah ditandatangani dan sebagai tanda kesungguhan, sejumlah uang Dolar Amerika sudah ditransfer ke Bank Sumsel. Infrastruktur yang akan dibangun pun jelas, yaitu jalur kereta api dan stock piling area, berikut jetty. Ijin penggunaaan hutan lindung sudah dikantongi. Meskipun prosesnya dianggap bermasalah, tapi ijin tersebut seharusnya tetap sah.
Tidak jelas apa yang menyebabkan Jakarta belum memberi lampu hijau.
Konon terganjal Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 91 tahun 2011 tentang Penyelenggaraan Perkeretaapian, khususnya Pasal 2a yang menyatakan bahwa pemeliharaan Perkeretaapian khusus dilakukan dengan prinsip: “hanya digunakan untuk kepentingan sendiri dalam rangka untuk menunjang kegiatan pokoknya atau digunakan oleh beberapa badan usaha yang berafiliasi untuk menunjang kegiatan pokok yang sejenis “. Aturan ini katanya menjegal proses pembangunan double track karena Adani Global selaku investor sekaligus penyelenggara, tidak memiliki ijin usaha pertambangan batubara (IUP). Kalau benar, maka kita tersandera peraturan dan hukum. Padahal, seharusnya peraturan mendahulukan asaz keadilan dan manfaat.

Jelas tidak mungkin memberikan IUP baru di Sumsel karena lahan sudah terbagi habis. Tapi, bukankah sangat menguntungkan kalau ada perusahaan yang tidak memiliki IUP mau membangun jalan kereta dan pelabuhan, apalagi para pemilik IUP di Sumsel bahkan PTBA pun tidak berani berinvestasi.

Tahun 2002 saya pernah meminta dilakukan seperti due diligence PTBA oleh Clough Engineering dari Australia, perusahaan yang dulu memiliki petrosea, kontraktor batubara. Hasilnya, dengan organisasi yang ada, sangat mudah untuk PTBA mengembangkan produksinya secara bertahap menjadi 50 juta ton dalam lima tahun, apabila angkutan tersedia.

Namun, waktu itu harga batubara sangat rendah, tidak akan kembali modal bahkan rugi kalau batubara diangkut dengan rel kereta api ganda dan pelabuhan yang dibangun baru . Akibat tidak cukup volume angkutan, produksi PTBA hanya naik sedikit-sedikit, dari sekitar 12 juta ton tahun 2002 menjadi sekitar 16 juta ton tahun 2011. Pemerintah Daerah Sumsel adalah pemegang lebih dari 20 juta lembar saham PTBA, diperoleh saat saya masih menjabat. Selain itu, pemegang IUP lain di Sumsel tidak bisa berproduksi optimal, dan angkutan batubara mereka mengakibatkan kemacetan dan kerusakan jalan.

Pelabuhan Tanjung Api-Api juga akan membuka keterisolasian wilayah pantai Timur Sumsel yang sekarang menjadi salah satu sentra produksi beras. Rasanya tidak kurang asaz keadilan dan manfaat pelabuhan Tanjung Api Api untuk masyarakat Sumsel.
Sekarang batubara masih laku dijual.
Kita tidak tahu sampai kapan batubara bisa dipakai dan laku, karena penemuan energi terbarukan yang lebih murah.

Sekarang, sampah pun sudah bisa dijadikan bahan bakar turbin penghasil listrik. Inilah saatnya mewujudkan mimpi naik kereta api ke Tanjung Api-Api, yang sudah dirintis sejak gubernur masih dijabat Bapak Ramli Hasan Basri, dilanjutkan oleh para penggantinya.

Sumatera Selatan sangat mengharapkan keikhlasan pemerintah pusat untuk memberi lampu hijau pembangunan pelabuhan Tanjung Api-Api, sebagai bagian integral Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI).
Mungkin para Petinggi Negara asal Sumsel bisa membantu mewujudkan mimpi kami naik sepur ke Tanjung Api-Api!

* Penulis adalah Gubernur Sumsel 1998-2003, sekarang adalah: President United in Diversity Forum; Advisory Board Member, Conservation International Indonesia dan Direktur Eksekutif Institute for Maritime Studies.

Iklan

Tentang Nurfirman Ephie

Bersahaja...Cinta dan mancintai keindahan, kejujuran dan keadilan.
Gambar | Pos ini dipublikasikan di Inspirasi, Palembang Darussalam, Pembangunan Nasional. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s