Marhaban Ya Ramadhan

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan kepada kamu berpuasa sebagaimana yang telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu. Mudah-mudahan kamu menjadi taqwa. (QS. Albaqarah, 2 : 183).

Bulan Ramadhaan permulaannya (mengandung) rahmat, pertengahannya (memberikan) ampunan, maghfirah dan ujungnya membebaskan (yang brepuasa) dari neraka (HR. Ibnu Khuzaimah dari Salman Al-Farisy).

Setelah menghilang 300 hari lamanya dari kehidupan masyarakat Muslim dunia, maka kekasih bulan Ramadhan muncul kembali dengan wajah segar dan tetap membawa kegairahan dan kebahagiaan. Untuk menyambut kehadirannya kembali kaum Muslimin di seluruh dunia mengucapkan : MARHABAN YA RAMADHAN !

Bulan Ramadhan mengandung berbagai keistimewaan. Diantaranya sebagai :
1) Bulan beribadah (Syahrul ibadah), sebab selain ummat Islam menunaikan ibadah puasa sebagai salaah satu tiang tonggak (pilar) Islam, pun terbuka kesempatan melaksanakan ibadah-ibadah lain;
2) Bulan turunnya petunjuk (Syahrul Huda);
3) Bulan pengampunan (Syahrul Ghufran);
4) Bulan perjuangan (Syahrul jihad), dimana kaum muslimin berlatih mengendalikan diri;
5) Bulan kemenangan (Syahrul-Fath), sebab pada bulan Ramadhan kaum Muslimin mencapai kemenangan sebagai hasil kemampuan mengendalikan diri, juga dalam bula Ramadhan itu di zaman dahlu penuh mengandung hasil-hasil berupa kemenangan.

Falsafah dan Hikmah Puasa

Sebagaimana tiap-tiap ibadah daalam Islam mengandung nilai-nilai untuk kehidupan pribadi dan masyarakat, demikian juga ibadah puasa Ramadhan itu mengandung falsafah dan hikmmat yang dalam, dampak yang positif. Dalam garis besarnya dapat dilihat dari empat sisi yang mendatangkan manfaat.

a) Manfaat Sosial (Social benefits)

Seperti diketahui, salah satu masalah sosial dunia yang terbesar adalah kemiskinan, dimana kelaparan membawa akibat melanda perikemanusian. Persoalan ini harus ditanggulangi secara terpadu. Diantaranya dengan membangun nilai-nilai sosialistis supaya ummat manusia saling meletakkan saham dan berperan. Orang-orang yang mampu dan kaya (the haves) haruslah mengulurkan tangan membantu orang-orang yang lemah dan tidak berpunya (the haven’t). Ini adalah persoalan manusia dan manusiawi.

ajaran Agama Islam melalui ibadah puasa menggugah keum muslimin yang mampu dan lapang untuk menolong orang-orang yang miskin dan melarat. Setiap Muslimin/Muslimat semakin terguguh mengulurkan tangan petolongan, sebab sebagai hasil kesadaran berpuasa, mereka mengalami sendiri bagaimana pahit-getirnya tekanan kelaparan, yang pada waktu ini ummat manusia di dunia ini sebagian besar hidup di bawah garis kemiskinan. Dari sisi sosial ini, doktrin Islam turut mengambil bagian partisipasi menanggulangi kelaparan/kemiskinan itu.

b) Manfaat Jasmaniah (physical benefits)

Ahli-ahli kesehatan menyatakan bahwa jasmani manusia tak obahnya seperti mesin yang sewaktu-waktu perlu diservis suapaya fungsi mesin itu tetap optimal. Demikian juga jasmani manusia harus diservis dengan mengosongkan perut besar (stomach) pada suatu waktu yang tertentu, dan disinilah peran puasa yang mewajibkan setiap Muslim/Muslimat yang beriman tidak makan dan minum di waktu siang hari selama satu bulan. Sehingga jasmaninya semakin sehat, fit dn akhirnya bergairah menghadapi kehidupan. Bukankah ada peribahasa yang mengatakan : “dalam jamani yang sehat terdapat pikiran yang segar dan cerdas ?”

c) Manfaat Moral (moral benefits)

Berkat latihan puasa satu bulan, hal ini secara praktis merupakan saatu latihan disiplin untuk meningkatkan moral manusia. Kita menyadari bahwa moral itu merupakan faktor yang penting dalam kehidupan manusia. Munusia yang sedang mengerjakan ibadah puasa itu, secara sadar menahan diri dari makan, minum dan lain-lain, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ini adalah satu pendidikan disiplin yang didorong dari daalam dirinya sendiri, hati nurani.

Kita belajar dari kenyataan, sejarah dan lain-lain, bahwa moral disiplin itu adalah faktor utama yang menentukan dalam kehidupan umat manusia.

d) Manfaat Kejiwaan (spritual benefits)

Seperti dijelaskan dalam Al-Quran (2:183), puncak tujuan ibadah puasa itu ialah untuk menciptkan manusia yang taqwa. Taqwa itu adalah taraf yang tertinggi dari spritual (kerohanian), sebab di dalam sikap jiwa yang taqwa terkandung untus-unsur yang membuat diri sendiri menjdai hidup dan menghidupkan pula kepada masyarakat dan lingkungannya. Jiwa taqwa menjadikan seseorang siap berkurban untuk kepentingaan umum dan kemanusiaan.

Agama-agama sebelum Islam mencari kesediaan berkurban untuk kepentingan umum menyiksa diri sendiri dengan bermacam-macam cara. Agama Islam menetapkan jalan-jalan yang mudah untuk melatih diri berkurban dengan jalan mengerjakan puasa, yang merupakan jalur hubungan mendekatkan diri kepad Pencipta manusia itu sendiri. (“Islam ideology and the way of life”oleh Afzalur Rahman, hal 124s.d.134).

Foto : Masjid Jami’ Kayuagung, Kecamatan Kota Kayuagung, Kabupaten OKI, Sumatera Selatan, Indonesia.
Tulisan : H.M. Yunan Nasution dalam Buletin Dakwah Noor 18 Tahun ke-XIV Sya’ban 1407 H/April 1987M.

Iklan

Tentang Nurfirman Ephie

Bersahaja...Cinta dan mancintai keindahan, kejujuran dan keadilan.
Pos ini dipublikasikan di Akhlak, Inspirasi, Islam. Tandai permalink.

2 Balasan ke Marhaban Ya Ramadhan

  1. Nizar berkata:

    TaqabbalaLLAHu minna wa minkum, Mohon maaf lahir batin, Pak.
    Sy sekarang studi lanjut di IPB. Mungkin nanti boleh diminta bantuannya kan, Pak. Tksh.

    • Nurfirman Ephie berkata:

      Sama-sama, Pak Nizar.
      Selamat, ya. Semoga dapat selessai sesuai jadwal dan cepat kembali ke OKI.
      Insya Allah, dengan senang hati jika ada yang dapat dibantu.
      Titip salam untuk Bapak/Ibu dosen di PSP-IPB.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s