Lebak, Lebung, Sungai dan Tanah Nyurung

Lebak, Lebung, Sungai dan Tanah Nyurung

Lebak, lebung, sungai dan tanah nyurung merupakan istilah yang sudah familiar di lidah dan telinga wong Plembang (masyarakat Sumatera Selatan, yang beribukota Palembang [baca : Plembang]) yang dalam kalangan pemangku kepentingan perikanan di Indonesia di kenal dengan perairan umum. Dikatakan pemangku kepentingan perikanan di Indonesia, karena dalam dokumen resmi Negara, mulai dari undang-undang sampai kepada peraturan menteri yang mempunyai kewenangan dalam perikanan tidak ditemukan kata-kata perairan umum. Namun dalam naskah-naskah yang diterbitkan oleh lembaga Negara yang mempunyai kewenangan dalam perikanan menggunakan istilah perairan umum, misalnya “Statistik Perikanan Indonesia”.

 

Dokumen Negara yang berkaitan dengan perairan di Indonesia adalah :

1.          Undang-undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 1996 tentang PERAIRAN INDONESIA, dalam BAB IKETENTUAN UMUM, Pasal 1 angka  4. : Perairan Indonesia adalah laut teritorial Indonesia beserta perairan kepulauan dan perairan pedalamannya. BAB II WILAYAH PERAIRAN INDONESIA, Pasal 3 angka 1. : Wilayah Perairan Indonesia meliputi laut teritorial Indonesia, perairan kepulauan, dan perairan pedalaman; angka 4. berbunyi “Perairan pedalaman Indonesia adalah semua perairan yang terletak pada sisi darat dari garis air rendah dari pantai-pantai Indonesia, termasuk kedalamannya semua, bagian dari perairan yang terletak pada sisi darat dari suatu garis penutup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7. Bunyi  Pasal 7 yang terkait dengan ini adalah angka 1. : Di dalam perairan kepulauan, untuk penetapan batas perairan pedalaman, Pemerintah Indonesia dapat menarik garis-garis penutup pada mulut sungai, kuala, teluk, anak laut, dan pelabuhan. Angka 2. : Perairan pedalaman terdiri atas:

a. laut pedalaman; dan

b. perairan darat.

Sedangkan yang dimaksud dengan Perairan darat adalah segala perairan yang terletak pada sisi darat dari garis air rendah, kecuali pada mulut sungai perairan darat adalah segala perairan yang terletak pada sisi darat dari garis penutup mulut sungai (angka 4 Pasal 7).

2.          Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang [Perpu] Nomor 4 Tahun 1960 Tentang Perairan Indonesia (Perpu ini sudah tidak berlaku sejak diundangkannya UU Nomor 6 Tahun 1996 diatas). Dalam Pasal 1 ayat (1) : Perairan Indonesia ialah wilayah Indonesia beserta perairan pedalaman Indonesia, ayat (3) Perairan pedalaman Indonesia ialah semua perairan yang terletak pada sisi dalam dari garis dasar  sebagai yang dimaksud pada ayat (2).

3.          Sebelumnya ketentuan mengenai Perairan Indonesia diatur dalam Territoriale Zee en Maritieme Kringen Ordonantie 1939 [Staatblad 1939 No.442], Dalam Pasal 1 ayat (1) angka 2 : Daerah laut Indonesia (perairan territorial) : laut Indonesia, termasuk bagian laut territorial yang terletak pada bagian sisi darat dari :

a. pantai laut;

b. daerah air dari teluk-teluk, ceruk-ceruk laut, muara-muara sungai dan terusan; angka 3 : Perairan pedalaman Indonesia : semua perairan yang terletak pada bagian sisi darat laut territorial Indoensia, termasuk sungai-sungai, terusan-terusan dan danau-danau dan rawa-rawa di Indonesia; angka 4 : Daerah air Indonesia : laut territorial termasuk perairan pedalaman Indonesia. Ketentuan ini dinyatakan tidak berlaku sejak diundangkannya Perpu Nomor 4 Tahun 1960.

4.          Undang-undang Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1985 tentan PERIKANAN, dalam  BAB II WILAYAH PERIKANAN Pasal 2 : Wilayah perikanan Republik Indonesia meliputi:

a. Perairan Indonesia;

b. Sungai, danau, waduk, rawa, dan genangan air lainnya di dalam wilayah Republik Indonesia;

c. Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia.

Undang-undang ini telah diganti dengan UU Nomor 32 Tahun 2004.

5.          Undang-undang Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 1992 tentang PELAYARAN, dalam  BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 : angka 3. : Perairan Indonesia adalah perairan yang meliputi laut wilayah, perairan kepulauan, perairan pedalaman sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 4 Prp Tahun 1960 tentang Perairan Indonesia jo Undang-undang Nomor 17 Tahun 1985 tentang Pengesahan United Nations Convention on the Law of the Sea (Konvensi Perserikatan Bangsa-bangsa tentang Hukum Laut), serta perairan daratan. Undang-undang telah diganti dengan UU Nomor 17 Tahun 2008.

6.          Undang-undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 2004 tentang PERIKANAN, dalam  BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 angka 20. : Perairan Indonesia adalah laut teritorial Indonesia beserta perairan kepulauan dan perairan pedalamannya. BAB III WILAYAH PENGELOLAAN PERIKANAN Pasal 5 : Wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia untuk penangkapan ikan dan pembudidayaan ikan meliputi:

a. Perairan Indonesia;

b. ZEEI, dan;

c. Sungai, danau, waduk, rawa, dan genangan air lainnya yang dapat diusahakan serta lahan pembudidayaan ikan yang potensial di wilayah Republik Indonesia;

7.          Undang-undang Republik Indonesia Nomor 27 TAHUN 2007 tentang PENGELOLAAN WILAYAH PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL, dalam BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 angka 7. : Perairan Pesisir adalah laut yang berbatasan dengan daratan meliputi perairan sejauh 12 (dua belas) mil laut diukur dari garis pantai, perairan yang menghubungkan pantai dan pulau-pulau, estuari, teluk, perairan dangkal, rawa payau, dan laguna.

8.          Undang-undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2008 tentang PELAYARAN, dalam  BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 angka 2.: Perairan Indonesia adalah laut teritorial Indonesia beserta perairan kepulauan dan perairan pedalamannya.

9.          Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor PER.01/MEN/2009 tentang WILAYAH PENGELOLAAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, dalam Pasal 1 ayat  (1) Wilayah Pengelolaan Perikanan Republik Indonesia, yang selanjutnya disebut WPP-RI, merupakan wilayah pengelolaan perikanan untuk penangkapan ikan, pembudidayaan ikan, konservasi, penelitian, dan pengembangan perikanan yang meliputi perairan pedalaman, perairan kepulauan, laut teritorial, zona tambahan, dan zona ekonomi eksklusif Indonesia.

 

PERAIRAN UMUM

 

Dari sembilan dokumen Negara di atas yang berbentuk peraturan perundang-undangan yang diterbitkan oleh Pemerintah di Indonesia sejak masa Pemerintahan Hindia Belanda, Pemerintah Republik Indonesia rezim Orde Lama, rezim Orde Baru sampai masa reformasi tidak satu pun ditemukan istilah perairan umum. Acuan yang benar menurut dokumen resmi Negara adalah perairan darat seperti tersebut dalam Pasal 7 angka 2 huruf b UU Nomor 6 Tahun 1996 tentang Perairan Indonesia.

 

Istilah perairan umum hanya ditemui dalam dokumen-dokumen yang diterbitkan oleh pemangku kepentingan perikanan, baik berupa laporan, data, karya ilmiah seperti prosiding dan sebagainya. Sehubungan lebak, lebung, sungai dan tanah nyurung merupakan istilah yang digunakan oleh pemangku kepentingan perikanan di Bumi Palembang Darussalam, maka disini kita lihat hubungan pengertian perairan umum dengan perairan darat.

 

Yang dimaksud dengan perairan umum adalah semua perairan yang berada di daratan dan bukan sebagai kolam atau tambak. Buku I Standar Statistik Perikanan (Ditjen Perikanan-Deptan, 1975) menyebutkan yang dimaksud dengan perairan umum adalah perairan perikanan darat yang dikuasai/dimiliki oleh Pemerintah baik Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah. Perairan perikanan darat yang terjadi karena luapan banjir, walaupun mungkin menutupi tanah milik perseorangan, dimasukkan sebagai perairan umum. Perairan perikanan darat yang dikuasai “Marga” juga dimasukkan sebagai perairan umum. Pedoman Teknis Pengelolaan Perairan Umum bagi Pembangunan Perikanan (Balitbangtan-Deptan, 1992) memberi pengertian bahwa yang dimaksud dengan perairan umum (open water / inland water) adalah bagian permukaan bumi yang secara permanent atau berkala digenangi air. Baik air tawar, air payau maupun air laut, mulai dari garis pasang surut laut terendah ke arah daratan dan badan air tesebut terbentuk secara alami atau buatan. Pasal 7 angka 4 UU Nomor 6 Tahun 1996 tentang Perairan Indonesia mendefenisikan perairan umum (perairan darat) adalah segala perairan yang terletak pada sisi darat dari garis air rendah, kecuali pada mulut sungai perairan darat adalah segala perairan yang terletak pada sisi darat dari garis penutup mulut sungai. Sehingga dengan demikian semua perairan yang meliputi sungai, danau, waduk, rawa, saluran irigari,  estuary, goba (lagoon) dan genangan air lainnya (situ, telaga, embung, teluk, kolong-kolong bekas galian dan legokan-legokan) adalah perairan umum. Di Bumi Palembang Darussalam (baca : Provinsi Sumatera Selatan) dikenal dengan lebak, lebung, sungai dan tanah nyurung.

 

Apa yang dimaksud dengan lebak, lebung, sungai dan tanah nyurung serta korelasinya dengan pengertian sungai, danau, rawa, saluran irigasi, estuary, lagoon dan genangan air lainnya sebagai bagian dari perairan umum. Dalam Pasal 5 ayat (2) Peraturan Pemerintah (PP) Republik Indonesia Nomor 60 Tahun 2007 disebutkan bahwa Tipe ekosistem yang terkait dengan sumber daya ikan terdiri atas:

a. laut;

b. padang lamun;

c. terumbu karang;

d. mangrove;

e. estuari;

f. pantai;

g. rawa;

h. sungai;

i. danau;

j. waduk;

k. embung; dan

l. ekosistem perairan buatan.

Sebelumnya telah dikemukakan bahwa perairan umum terdiri dari :

a.   Sungai

b.  Danau

c.   Waduk

d.  Rawa

e.   Saluran Irigasi

f.   Estuari

g.  Lagoon

h.  Genangan air lainnya.

Sementara di Bumi Palembang Darussalam dikenal dengan :

a.   Lebak

b.  Lebung

c.   Sungai, dan

d.  Tanah Nyurung.

 

Tipe ekosistem yang tidak termasuk dalam lebak, lebung, sungai dan tanah nyurung adalah :

a. laut,

b. padang lamun,

c. terumbu karang, dan

d. pantai.

 

Untuk melihat korelasi sungai, danau, waduk, rawa, saluran irigasi, estuary, lagoon dan genangan air lainnya dengan lebak, lebung, sungai dan tanah nyurung, terlebih dulu kita lihat pengertian dari :

1.          Sungai

Adalah perairan mengalir (lotic) yang airnya mengalir secara terus-menerus pada arah tertentu, sumber air dapat berasal dari air tanah, air hujan dan atau air permukaan yang akhirnya bermuara ke laut, sungai, danau, waduk atau rawa. Kadang kala, aliran sungai terputus sehingga membentuk sungai mati (oxbow lake), yaitu bagian aliran sungai yang alirannya terputus secara permanent atau sementara dari sungai asalnya dan terjadi secara alami atau buatan, misalnya Ogan Mati di Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan.

Pasal 1 angka 10 UU Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumberday Air mendefenisikan “Wilayah sungai yaitu kesatuan wilayah pengelolaan sumber daya air dalam satu atau lebih daerah aliran sungai dan/atau pulau-pulau kecil yang luasnya kurang dari atau sama dengan 2.000 km2”. Sedangkan Daerah aliran sungai adalah suatu wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungainya, yang berfungsi menampung, menyimpan, dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau ke laut secara alami, yang batas di darat merupakan pemisah topografis dan batas di laut sampai dengan daerah perairan yang masih terpengaruh aktivitas daratan. berfungsi menampung, menyimpan, dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau ke laut secara alami, yang batas di darat merupakan pemisah topografis dan batas di laut sampai dengan daerah perairan yang masih terpengaruh aktivitas daratan.

2.          Danau

Adalah perairan tergenang (lentic), genangan airnya luas dengan fluktuasi tinggi dan luas permukaan air kecil, kedalamannya dapat dangkal atau sangat dalam, mempunyai atau tidak mempunyai sungai yang mengalir ke dalaam atau keluar perairan, terbentuk secara alami dan terisolasi dari laut.

3.          Waduk

Adalah danau buatan (man made lake), merupakan perairan tergenang (lentic), dimana genangan air yang terbentuk karena pembendungan aliran sungai bukan alami, mempunyai tinggi dan luas permukaan air yang berfluktuai besar. Waduk dibangun dengan fungsi sebagai pengairan (irigasi), pembangkit tenaga listrik, pengendali banjir dan sebagainya.

4.          Rawa

Adalah perairan yang cukup luas yang terdapat di daratan rendah dengan sumber air hujan, air laut dan atau berhubungan atau tidak berhubungan dengan sungai, kedalaman air relative tidak dalam, berdasar lumpur dan atau tumbuh-tubuhan membusuk, banyak terdapat vegetasi baik yang mengapung, mencuat maupun yang tenggelam.

5.          Mangrove

Atau hutan bakau adalah rawa dengan sumber air dari laut (pasang-surut), kedalaman tergantung dengan tinggi air pasang, banyak ditumbuhi oleh vegetasi, terutama dari jenis  bakau, api-api, nipah dan sebagainya.

6.          Saluran Irigasi

Adalah perairan mengalir (lotic) yang dibuat oleh manusia (man made canal) dengan sumber air sungai yang dibendung, atau dipompa dan waduk atau laut. Fungsi utamanya adalah untuk pengairan sawah atau tambak

7.          Estuari

Atau perairan kuala adalah perairan laut tempat sungai bermuara, sehingga berhubungan bebas dan terbuka dengan laut. Merupakan perairan yang sangat komplek, fluktuasi salinitas sangat tinggi karena selalu terjadi pencampuran antara air tawar dan air laut. Umumnya dangkal dan luas, dasar perairan lumpur atau pasir, keanekaragaman flora dan fauna kecil namun mempunyai kepadatan yang tinggi, dan merupakan perairan yang subur bagi pembesaran ikan, krustase (Crustacea) dan moluska (Molusc) oleh karena itu sebagai daerah pemijahan, asuhan dan mencari makan bagi ikan, , krustase (Crustacea) dan moluska (Molusc)

8.          Lagoon

Atau goba adalah perairan semi tertutup di tepi pantai yang terbentuk karena penumpukan pasir atau sediment batuan yang memotong pemasukan ke laut atau teluk atau karena pertumbuahan garis pantai yang muncul ke permukaan atau terbentuk dari daerah lembah yang patah sehingga terjadi genangan air, baik air laut maupun air payau. Perairan ini dapat berhunbungan atau terputus dengan laut setiap saat.

9.          Genangan air lainnya

Yang termasuk ke dalam kelompok ini antara lain telega (Sumatera Barat), situ (Jawa Barat), embung (Jawa Tengah), atau kolong-kolong dan legokan-legokan (water tanks, water ponds) adalah perairan tergenang (lentic), dimana genangan airnya relative tidak luas, terbentuk secara alami atau buatan

 

 

LEBAK, LEBUNG, SUNGAI DAN TANAH NYURUNG

Pengertian lebak, lebung, sungai dan tanah nyurung terdapat dalam Pasal 1 angka 13 dan 14 Perda Sumatera Selatan Nomor 8/Perdass/1973/1974 : Lebak lebung adalah suatu areal tanah yang digenangi air sungai baik secara musiman maupun sepanjang tahun (angka 13), dipersamakan dengan Lebak Lebung adalah sungai, kuala dan danau (angka 14).

 

Pada Bab II telah didefenisikan apa yang dimaksud dengan sungai, lalu apa yang dimaksud dengan lebak, lebung, sungai dan tanah nyurung disini :

1.      Lebak

adalah lahan yang tergenang oleh air pada saat musim hujan (banjir) dan kering pada saat musim kemarau. Merujuk tipe ekosistem pada Pasal 5 ayat (2) Peraturan Pemerintah (PP) Republik Indonesia Nomor 60 Tahun 2007 seperti diuraikan diatas, yang termasuk lebak adalah rawa dan mangrove.

 

Lebak merupakan daerah penangkapan ikan dan sebagai lahan usaha (peruntukan) lainnya. Sebagai lahan usaha, bagi masyarakat Palembang Darussalam lebak berfungsi sebagai :

a. Tempat bekarang (menangkap ikan),

b.      sawah,

c.       tempat bedamar (mengusahakan hasil hutan, seperti kayu, rotan, madu lebah dan lain-lain) untuk lahan yang masih tertutup hutan,

d.      tempat mengusahakan purun (jenis rumput yang digunakan untuk bahan baku tikar dan anyaman lainnya) dan jenis rerumputan lainnya seperti prumpung untuk bahan joran tajur (set pole and line),

e.       padang gembalaan ternak sapi dan kerbau,

f.       dan lain-lain, seperti pemukiman.

Dari fungsi di atas, lebak dapat bedakan menjadi 2 berdasarkan sifat tutupannya oleh vegetasi :

a.       Lebak Sawah

Adalah lebak selain tempat bekarang juga berfungsi sebagai sawah, yaitu lahan pertanian padi dan palawija. Diliha lahan pertanian, lebak sawah disebut sebagai sawah lebak. Institusi pertanian membagi sawah lebak mejadi 3, yaitu :

1)          Lebak pematang

Adalah lebak yang dapat ditanami padi pada pengujung musim hujan.

2)          Lebak tengahan

Adalah bagian lebak yang lebih rendah dari lebak pematang dan dapat ditanami padi awal musim kemarau.

3)          Lebak dalam

Adalah bagian lebak yang lebih rendah dari lebak tengahan dan hanya dapat ditanami padi saat musim kemarau panjang atau pertengahan musim kemarau.

Musim air tinggi (musim hujan) lebak sawah ditumbuhi atau tertutup oleh vegetasi perairan seperti terate (teratai, buahnya biasanya dimanfaatkan sebagai makanan jajanan), cetot (enceng gondok), keman (sejenis putri malu, biasa dimanfaatkan sebagai lalapan), rumput-rumputan dan tumbuhan gulma air lainnya. Pada saat ini, maka lebak sawah merupakan habitat bagi ikan air tawar. Baik ikan lebak (black fish) maupun ikan sungai (white fish).

b.      Lebak Kumpai

Adalah lebak yang tidak berfungsi sebagai sawah, tetapi masih ditumbuhi oleh tumbuhan alami. Dilhat dari vegetasinya, lebak ini dapat dibedakan menjadi 2, yaitu :

1)          Hutan rawang adalah lebak kumpai yang masih berwujud habitat aslinya sebagai hutan rawa, dimana masih ditumbuhi vegetasi kayu-kayuan. Fungsi utama dari lebak ini adalah sebagai tempat bekarang dan bedamar.

2)          Lebak kumpai atau lebak rawang.  Sebutan ini menunjuk pada vegetasi yang menutupinya, vegetasi yang menutupinya adalah semak-belukar dan pohon kayu hampir tidak ada. Pada lebak tertentu didominasi oleh jenis kumpai atau prumpung atau jenis rumput-rumputan lainnya, sehingga disebut lebak kumpai. Fungsi utama dari lebak ini adalah sebagai tempat bekarang, padang gembalaan ternak sapi dan kerbau, dan tempat mengambil purun.

2.      Lebung

Atau lopak adalah cekungan atau bagian yang dalam yang terdapat di lebak, tidak kering pada musim kemarau (meskipun pada saat musim kemarau panjang akan kering) dan tempat terkumpulnya ikan pada saat air surut. Dilihat  dari cara terbentuknya lebung di bagi 2 :

a.       Lebung alam

Lebung yang terbentuk secara alami.

b.      Lebung buatan

Atau lopak buatan atau somor adalah lebung yang sengaja dibuat oleh pemilik lahan.

3.      Sungai

Dalam Bahasa Plembang disamping sebutan sungai, sungai juga disebut dengan bermacam sebutan, antara lain :

–          Batanghari artinya sungai utama atau sungai besar, misal Sungai Musi dengan 9 anak sungainya disebut batanghari sembilan.

–          Air artinya sungai utama juga, misalnya Air Ogan (Sungai Ogan), Air Sugihan (Sungai Sugihan), dsb.

–          Arisan atau risan artinya anak sungai atau sungai kecil.

–          Tulung artinya anak sungai atau sungai kecil.

–          Buluran adalah anak sungai yang terdapat di lebak dan terbentuk karena lintasan perahu yang berulang-ulang.

–          Got adalah sungai buatan yang terdapat di lebak, misalnya Got Menaji di Kecamatan Kota Kayuagung.

Yang dimaksud sungai disini adalah sungai sebagaimana diuraikan diatas. Sungai merupakan tempat bekarang dan sebagai alur lalu lintas utama.

4.      Tanah Nyurung

Adalah bagian dari badan sungai yang pada saat air surut (kemarau) menjadi daratan. Tempatnya bisa di salah satu sisi sungai atau di tengah sungai. Tanah nyurung yang terletak di tengah sungai disebut pulau. Fungsi tanah nyurung adalah tempat bekarang pada saat tertutup oleh aliran air dan sebagai tempat bercocok tanaman semusim pada saat timbul (kemarau).

 

Lebak, lebung, sungai dan tanah nyurung merupakan ekosistem atau sub ekosistem. Tanah nyurung adalah sub ekosistem dari ekosistem sungai, sedangkan lebak, lebung dan sungai merupakan satu ekosistem atau sub ekosistem yang dalam register lelang sering kali disebut lebak atau sungai atau arisan. Misalnya :

–          Lebak :

Lebak Talang Peramuan/Lebak Sungai Lais di Kecamatan Pemulutan Kabupaten Ogan Ilir.

–          Sungai :

Sungai Kong (Hulu dan anaknya), Dari Kuala serta anak-anak sungainya (jarak dari sungai ke sungai dibagi dua hingga ke hulunya) di Kecamatan Tulung Selapan Kabupaten Ogan Komering Ilir.

–          Arisan :

Arisan Usin :Sebelah ilir Ds. Serigeni mulai dari pinggir Batanghari Komering tempat orang yang berladang dan Arisan Segading hingga buntut pelelangan di Kecamatan Kota Kayuagung Kabupaten Ogan Komering Ilir.

Sebagai suatu ekosistem, lebak lebung dan sungai biasanya terdiri dari satu atau bagian dari batanghari, satu atau lebih arisan, buluran, dan lebung serta lingkungan fisik di luar perairan berupa lahan kering yang dalam Bahasa Plembang disebut talang. Arisan merupakan anak sungai yang menghubungkan batanghari dengan lebak atau antara satu lebak dengan lebak lainnya. Sedangkan talang adalah lahan kering yang membatasi satu lebak dengan lainnya atau lahan kering antara sungai dengan lebak. Talang ini bisa sangat lebar, bisa juga hanya beberapa meter saja. Talang sengaja dibuat dengan pengurukan (timbunan) disebut tembokan.

NILAI STRATEGIS LEBAK, LEBUNG, SUNGAI DAN TANAH NYURUNG

 

Lebak, lebung, sungai dan tanah nyurung juga merupakan bagian penting dari perikehidupan Wong di Bumi Palembang Darussalam yang mencakup sosial, budaya dan ekonomi. Baik di daerah uluan (bagian hulu) yang meliputi Kabupaten OKU Timur, Kabupaten OKU Selatan, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Kabupaten Lahat, Kabupaten Empat Lawang, Kota Pagaralam, Kota Prabumulih, Kabupaten Muara Enim, Kabupaten Musi Rawas dan Kota Lubuk Linggau,  maupun di daerah iliran (bagian hilir) yang mencakup Kabupaten Ogan Komering Ilir, Kabupaten Ogan Ilir, Kota Palembang, Kabupaten Banyuasin dan Kabupaten Musi Banyausin. Untuk daerah iliran, kecuali Kota Palembang lebak, lebung, sungai dan tanah nyurung merupakan lahan usaha utama bagi masyarakat dan sebagai andalan dalam penerimaan PAD (pendapatan asli daerah) bagi daerah-daerah tersebut melalui lelang lebak, lebung, sungai dan tanah nyurung. PAD tiap kabupaten dari lelang lebak, lebung, sungai dan tanah nyurung bervariasi sesuai potensi, situasi dan kondisi dari tiap kabupaten.  Kabupaten MUBA setiap tahunnya memperoleh PAD lebih dari Rp.2 Milyar, demikian juga Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI).

 

Lebak, lebung, sungai dan tanah nyurung sudah sangat menyatu dengan hidup dan perikehidupan Bumi Palembang Darussalan, terutama daerah iliran. Fungsinya tidak hanya sebagai lahan usaha dan pemukiman, tetapi juga sumber air, MCK dan tempat pembuangan sampah serta interaksi sosial dan budaya.

 

Dari hasil bekarangnya, dihasilkan bermacam jenis ikan mulai dari ikan eksotik sebagai ikan hias maupun ikan komsumsi. Ikan-ikan eksotik yang untuk ikan hias akuarium antara lain ikan tangkeleso/arwana (Scleropages formasus), botia (Botia sp.), serandang (Ophiocephalus pleurophthalmus), belida (Notopterus sp.), ikan sumpit (Taxotes sp.) dan lain-lain. Ikan konsumsi menghasilkan produk olahan yang khas dan trade mark Palembang yaitu pempek dan kemplang/kerupuk palembang.

 

Dari hasil bedamar, dihasilkan kayu yang berkualitas untuk rumah limas dan perabotan dengan ukiran kayu yang indah. Menghidangkan sirih untuk pembuka perundingan yang menjadi cirri khas melayu, maka di Bumi Palembang Darussalam tempanya dalam tepak yang dibuat dari kayu dengan ukiran indah dan dicat warna mas. Umbut rotan merupakan salah satu lalapan pembuka selera dari hasil bedamar.

 

Rumput purun yang mendominasi di lebak yang sudah tidak ada belukarnya, meghasilkan tikar dan anyaman lainnya. Penghasil utama anyaman tikar antara lain Marga Danau di Kecamatan Pedamaran Kabupaten Ogan Komering Ilir.

 

Di beberapa tempat, sungai merupakan tempat bercengkerama dan santai. Misalnya di Kota Kayuagung, rumah-rumah tempo dulu selalu membuat bangunan tangga rajo di depan ruamahnya di pinggiran Batanghari Komering yaitu bangunan semacam shelter. Kota ini salah satunya terdiri dari Marga Kayuagung yang mempunyai 9 morge atau dusun. Dinama 9 dusun ini terletak di pinggiran Batanghari Komering, setiap tahun pada hari ketiga Iedul Fitri ke-9 dusun melaksanakan Midang mengelilingi Batanghari Komering yang masuk dalam wilayah 9 dusun. Midang adalah karnaval yang diikuti oleh bujang-gadis dengan memakai pakaian adat Marga Kayuagung. Pada saat ini merupakan waktu yang tepat untuk melihat gadis  atau bujang yang menawan.

(Sukadana, 10-03-2011).

 

 

Iklan

Tentang Nurfirman Ephie

Bersahaja...Cinta dan mancintai keindahan, kejujuran dan keadilan.
Pos ini dipublikasikan di Lebak Lebung, Marga, Palembang Darussalam, Perikanan (Fisheries), Perikanan Perairan Umum Daratan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s