Alpukat Pembeli Raskin

Siang ini pulang istirahat siang…isomas…istirahat, shalat dan makan siang. Kulihat seember alpukat dengan ukuran yang cukup besar di dekat kulkas. Kuambil satu, tentu akan terasa kenyang jika dimakan satu buah. “Masih mentah, Da”, kata istriku. Ya…ketika kupegang memang masih terasa keras.

“Uda lapar ya, nasi sudah masak…tapi gulainya belum”, istriku mulai bercerita panjang sambil mengiris tahu. “Tadi ada bibik yang membawa sekarung ukuran beras 20 kg…penuh berisi alpukat. Bibik itu pakai sepeda dan kelihatannya sudah lelah “. Istriku melanjutkan ceritanya, sambil mempersiapkan bumbu untuk memasak gulai. “Bibik itu menawarkan ke kami, tadi di depan ada banyak ibu-ibu komplek sini. Dia menawarkan dengan harga lima puluh ribu rupiah. Kutawar tiga puluh ribu. Si Bibik tidak mau, tapi dia merayu terus agar untuk membeli alpukatnya. Kalau lima puluh ribu kan kemahalan”, istriku terus beciloteh.

Kukatakan pada si Bibik, “kalau mau tiga puluh ribu kuambil.” Si Bibik menjawab, “Tolonglah Yuuuk, duit jual alpukat ini untuk membeli beras raskin di Kades. Harganya empat puluh ribu. Kalau tiga puluh ribu saya tidak bisa beli beras raskin.’ (Beras raskin = beras untuk keluarga miskin). “Benar untuk beli beras”, tanyaku kepada si Bibik, lanjut cerita istriku. “Benar, Yuuuk !”, jawab si Bibik.
Lalu kukatakan kepada si Bibik, “Kalau gitu, aku masih nak beli alpukatmu Rp. 30 ribu itulah. Tapi untuk beli beras kuunjuk kamu Rp.20 ribu sebagai sedekah. Mau ?” (Unjuk = beri). “Iyalah”, kata si Bibik.

Setelah si Bibik pergi dengan membaya tiga lembar uang kertas masing-masing 2 lembar uang dua puluh ribuan dan selembar uang sepuluh ribuan, ibu-ibu yang bersama aku ngomong. Sama saja, Li. Kamu beli Rp.50.000,-. Seperti kata Uda, maka kujawab tidak sama. “Yang tiga puluh ribu adalah jual beli yang sah. Sedangkan yang dua puluh ribu, sedekah. Itu amal dan pasti dicatat oleh malaikat sebagai amal sedekahku”, istriku menyudahi cerita sambil menghidupkan kompor untuk memasak gulainya dan berkata, “Uda wudhu’lah dan shalat zhuhur”.

Istriku ada-ada saja.

Iklan

Tentang Nurfirman Ephie

Bersahaja...Cinta dan mancintai keindahan, kejujuran dan keadilan.
Pos ini dipublikasikan di Ispirasi dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s