Orang Kaya

Sebuah hikmah yang didapat dapat dari tulisan RHENALD KASALI pada http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/378469/1/  yang diunduh tanggal 27 Januari 2011 adalah semakin meyakinkan diri dengan apa yang sudah dijalani selama ini, bahwa kekakayan itu terletak dalam hati (kalb) bukan pada apa yang bisa dilihat dengan mata (baca : materi). Inilah artikelnya :

Dompet Kebohongan PDF Print
Thursday, 27 January 2011
ADA rasa galau dalam jiwa saya saat menyaksikan semakin banyak orang yang kehilangan senyum, mudah tersinggung,cepat membunyikan klakson kendaraan, menulis di blog dengan penuh amarah sambil mengumpat dan memprovokasi permusuhan.

Orang-orang seperti itu jumlahnya semakin banyak meski pakaian dan atribut yang mereka pakai mencerminkan mereka adalah orang-orang yang religius.Apakah ini pertanda orang Indonesia mulai tidak berbahagia?

GDP vs GNH

Tak dapat dipungkiri secara material, hidup sebagian besar orang Indonesia memang sudah jauh lebih baik.Sejalan dengan itu, semakin hari semakin banyak kita mendengar politisi dan pejabat yang berbicara tentang gross domestic product (GDP). Hampir setiap malam reporter televisi mempersoalkan yang namanya pertumbuhan, indeks saham,jumlah orang miskin,dan pendapatan per kapita. Kemajuan diukur dalam bentuk uang dan GDP adalah alat ukur yang luar biasa.Tetapi,senator Robert Kennedy pernah mengatakan, ”GDP mengukur segala-galanya, kecuali bagaimana membuat hidup seseorang menjadi lebih berarti dengan kekayaan itu.” GDP diributkan. Gap kayamiskin ramai dibicarakan.Apalagi kalau kenaikan kekayaan tidak merata.

Statistik bisa dikulik seperti suara dan kecepatan sepeda motor. Akibatnya, uang dan kekayaan telah berubah menjadi sumber keributan. Maka sebagian kepala negara memilih alat ukur lain yang lebih bisa membuatnya tidur tenang selagi memimpin sehingga bisa ”mendarat” dengan selamat ketika kekuasaannya berakhir. Itulah GNH atau gross national happiness.Tetapi, setiap kali berbicara tentang happiness, kita selalu ingat dengan Raja Bhutan yang sejak beberapa tahun silam mendengungkan pentingnya alat ukur ini. Ketimbang mengacu pada GDP, Raja Jigme Khesar Namgyel Wangchuk lebih senang memakai indeks kebahagiaan. Jadi bukan uang (GDP),melainkan rasa aman, bebas dari dan berbagai ancaman (penyakit,polusi,peras,kebahagiaan psikologis) yang harus menjadi tolok ukur kemajuan.

Itulah GNH atau gross national happiness.Suatu bangsa boleh saja uangnya (baca: GDP atau pendapatan per kapita) tinggi, tetapi mereka bisa saja mengeluh dan berontak. Orang berontak karena macam-macam sebab dan salah satunya masalah kebahagiaan. Tetapi, harus diakui bahwa kebahagiaan adalah sesuatu yang sangat kompleks.Kita bisa bahagia karena segala hal terpenuhi,tetapi menjadi kurang bahagia karena keadaan sekitar berpengaruh pada hidup kita. Maka tak mengherankan bila Perdana Menteri Inggris David Cameron mengatakan,”Kita tidak cukup hanya mengisi dompet rakyat dengan uang saja.

Kita juga harus bisa mengisi hati mereka dengan kemenangan-kemenangan dan kebahagiaan.” Mungkin inilah sumber kegalauan kita.Rakyat tidak merasa lebih bahagia karena dompetnya lebih terisi, tapi karena tak ada berita kemenangan yang membuatnya bahagia. Dengan Malaysia kita menjadi lebih agresif karena sulit mengalahkan. Dengan mafia hukum,kita pun sulit meraih kemenangan. Dengan negara-negara tetangga, ekonomi kita pun tidak berada di posisi yang lebih baik.

Muda dan Religius

Tetapi pada era 1970-an ada seorang peneliti yang menemukan, ternyata orang-orang yang bahagia terdiri atas orang-orang kaya, berpendidikan,muda,dan religius. Selama bertahun-tahun banyak orang mempercayai kebenaran ini sehingga buku-buku yang menghubungkan antara kaya dengan bahagia atau religius dengan bahagia, mendominasi pasar. Tetapi, belakangan para ahli menemukan temuan itu tidak konsisten. Malahan sekarang diketahui hal sebaliknyalah yang terjadi. Bukan karena kaya maka seseorang akan bahagia, melainkan kalau seseorang bahagia, dia akan lebih mudah mendatangkan rezeki dan akan selalu merasa kaya.

Orang-orang kaya adalah orang-orang yang bersyukur. Dengan demikian pula,bukan karena usia mudalah yang memberi Anda kebahagiaan, tetapi orang-orang yang bahagia akan selalu merasa muda dan awet muda. Bahagia adalah elemen penting di balik panjang usia seseorang. Tentang pendidikan dan religius, belakangan para ahli menemukan ternyata tidak ada hubungannya sama sekali dengan kebahagiaan. Namun, orang-orang yang berbahagia akan selalu menghargai pengetahuan dan menjalankan kehidupan spiritualnya lebih baik. Mereka ingin berbagi kebahagiaan secara utuh. Jadi sebenarnya, bangsa ini tengah mengalami suatu ujian yang luar biasa. Ujian materialisme yang bisa memerangkap banyak orang seakan-akan di situlah letak sumber kebahagiaan.Padahal kekayaan materialisme terus bergerak seperti saat kita berada di atas ban berjalan atau treadmill.

Dia bergerak terus ke depan dan sulit menyatakan dari mana titik kebahagiaan berada. Manusia akan tidak pernah merasa puas. Saya khawatir kita tengah berada di sebuah tikungan maut yang membuat kita selalu merasa terancam dan sewaktuwaktu bisa jatuh ke dalam lembah yang dalam. Kita bisa saja hidup sudah jauh lebih baik. Mungkin inilah saatnya untuk membalik itu semua,memulainya dengan rasa syukur, rasa bahagia agar semua cerita kasih alam semesta berpihak kepada kita. Dengan aura-aura positif kita akan menarik benih-benih baik, kejujuran, kesejahteraan, dan keadilan.(*)

RHENALD KASALI
Ketua Program MM UI

Iklan

Tentang Nurfirman Ephie

Bersahaja...Cinta dan mancintai keindahan, kejujuran dan keadilan.
Pos ini dipublikasikan di Akhlak, Pembangunan Nasional. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s