Pangan dari Laut

Dibawah ini sebuah artikel dari VIVAnews yang ditulis By Siswanto, Febry Abbdinnah –  yang terbit pada hari Kamis, 13 Januari 2011 dengan judul “Cara Bijak Makan Seafood” http://id.news.yahoo.com/viva/20110112/tls-cara-bijak-makan-seafood-34dae5e.htm
Benarkah seseram ini keadaan di laut di planet salah nama ini. Dikatakan salah nama karena planet ini bernama bumi yang berarti tanah, padahal 2/3 dari planet ini di tutupi oleh air bukan tanah (bumi).
Indonesia merupakan negara kepulauan, dengan 2/3 dari luas wilayahnya juga merupakan perairan. Di daratan, telah nyata terlihat kerusakan permukaan bumi. Dan laut yang luas yang selama rezim orde baru terabaikan, sejak awal reformasi mulai dilirik sebagai sumber usaha dan lapangan kerja. Setelah ditangani secara intensif oleh sebuah kementerian, ternyata di laut nusantara ini begitu luar biasa penangkapan ilegal oleh nelayan dari luar negeri, seperti Malaisia, Thailand, Vietnam, China dan lain-lain. Dan nelayan negeri ini seringkali kalah dalam persaingan daerah penangkapan ikan (fishing ground), karena kalah teknologi dan ukuran/kecapatan kapal penangkap ikan. Bahkan yang paling lucu adalah dilarangnya nelayan negeri ini menggunakan alat penangkap ikan “Trawl” dengan Keppres Nomor 39 Tahun 1980, sementara nelayan-nelayan dari negara yang disebutkan diatas menggunakan alat penangkap ikan tersebut. Ironis.
Namun, selalu saja ada kelompok orang yang menakut-nakuti anak bangsa ini untuk mengusahakan bahan pangan dari laut.
Seperti artikel berikut :

Sashimi, sushi, kerapu bakar, tuna asam manis dan sop kepala kakap merah, semuanya makanan menggiurkan selera. Banyak orang di berbagai belahan dunia menggemarinya, mungkin termasuk Anda dan keluarga.

Tetapi tahukah Anda, bila kita semua tidak bijaksana dalam mengonsumsi makanan yang berasal dari laut ini, berarti kita ikut terlibat mempercepat kepunahan ikan laut.

Bahkan, para ilmuwan kelautan telah memprediksi kita semua akan mengonsumsi plankton pada 2050 mendatang, bila mulai hari ini tidak bijaksana memilih seafood. Plankton adalah pakan alami ikan laut.

“Ikan makin hari semakin seperti emas. Nelayan semakin susah mencarinya,” kata Imam Mustofa, Koordinator WWF-Indonesia National Fisheries Program, pada seminar bertajuk ‘Choose Your Food Right’ di @america Pacific Place, Jakarta.

Seperti Anda ketahui, ikan sangat baik bagi kesehatan manusia karena merupakan sumber protein, lemak, vitamin B6, B12, Biotin, dan Niacin, serta kaya akan mineral yang dapat meningkatkan kecerdasan otak.

Karena itu, tidak heran bila penggila sushi atau seafood makin hari makin meningkat, apalagi di Indonesia yang memiliki laut yang luasnya lebih kurang 5,6 juta kilometer persegi dengan potensi sumber daya alam yang melimpah.

Namun lucunya, makin hari para nelayan mencari ikan di tempat yang lebih jauh dari garis pantai. Bahkan, nelayan-nelayan dari North Sea mulai mencari ikan di perairan coral triangle, yaitu Indonesia, Malaysia, Filiphina, Timor Leste, dan Papua New Guinea.

Permintaan yang tinggi dari masyarakat akan seafood menyebabkan perusahaan perikanan mendistribusikan ikan dari hasil tangkapan nelayan lebih banyak. Nelayan pun demi keuntungan yang lebih besar mencoba menjaring ikan dalam jumlah yang lebih banyak pula tanpa menghiraukan standar ukuran ikan yang dapat dipanen.

Sedangkan kondisi perikanan di Indonesia sendiri cukup mengkhawatirkan. Ukuran yang biasa ditangkap saat ini jauh lebih kecil dari ukuran standar penangkapan. Ikan tuna misalnya, standar penangkapannya adalah 600 gram, tetapi yang sering Anda temui pasti lebih kecil dari itu.

Solusi

Cobalah untuk bijak dalam memilih seafood yang akan Anda makan. WWF telah mengeluarkan ‘Seafood Guide’ berisi daftar jenis-jenis ikan yang dapat Anda hindari, kurangi, dan Anda makan.

Penyu dan telurnya, ketam kelapa, lobster atau udang karang, hiu, tuna sirip biru dan kuning, serta kerapu harus Anda dihindari karena populasinya sedikit sekali.

Sedangkan kepiting, kakap, udang, pari, dan gurita sebaiknya yang Anda kurangi. Begitu pula dengan telur ikan karena dengan memakan telur ikan, berarti Anda telah memusnahkan bibit ikan.

Lalu, apa yang dapat Anda makan sepuasnya; teri, tongkol, bandeng, bawal, sarden, tenggiri, cumi-cumi, dan ubur-ubur.

Kaget? Tenang saja! ‘Seafood Guide’ yang dibuat WWF bukanlah harga mati. Anda masih dapat makan tuna, kakap, udang asalkan betul-betul memperhatikan ukurannya. Pilihlah seafood yang ukurannya besar, karena yang berukuran kecil masih merupakan bayi.

Dengan mengikuti cara ini, maka Anda akan berhasil memaksa nelayan dan perusahaan perikanan untuk lebih bertanggung jawab. Dan Anda tidak perlu takut akan memberi makan anak dan cucu, plankton di kemudian hari. (pet)

Iklan

Tentang Nurfirman Ephie

Bersahaja...Cinta dan mancintai keindahan, kejujuran dan keadilan.
Pos ini dipublikasikan di Pembangunan Nasional, Perikanan (Fisheries), Perikanan Laut. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s