KEWAJIBAN MENGHORMATI IBU BAPAK

KEWAJIBAN MENGHORMATI IBU BAPAK

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada 2 orang ibu bapaknya. Ibunya mengandungnya dengan susah payah. Mengandungnya sampai dengan menyapihnya adalah 30 bulan, sehingga apabila ia telah dewasa dan umurnya sampai 40 tahun ia berdo’a : ” Ya Tuhanku ! Tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal shaleh yang Engkau ridhai. Berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”
Mereka itulah orang-orang yang Kami terima dari mereka amal yang baik yang telah mereka kerjakan dan Kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka, bersama penghuni-penghuni syurga, sebagai janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka. (QS. Al – Ahqaaf, 46 : 15 -16).

Ini adalah kisah 2 orang kakak beradik yang memperebutkan hak pengabdian kepada ibunya yang sudah tua renta. Sehingga berlanjut ke pengadilan. Kisah ini terjadi di Arab Saudi.

Inilah kisahnya :

Di salah 1 pengadilan Qasim, Kerajaan Saudi Arabia, berdiri Hizan al Fuhaidi dg air mata yg bercucuran shg membasahi janggutnya,,!! Knp? Krn ia kalah terhadap perseteruannya dg saudara kandungnya!!

Tentang apakah perseteruannya dg saudaranay?? Ttng tanah kah?? atau warisan yg mereka saling perebutkan??

Bkn krn itu semua!! Ia kalah terhdp saudaranya terkait pemeliharaan ibunya yg sdh tua renta & bahkan hanya memakai sebuah cincin timah di jarinya yg tlh keriput,,

Seumur hidupnya, beliau tinggal dg Hizan yg selama ini menjaganya,,

Tatkala beliau telah manula, datanglah adiknya yg tinggal di kota lain, utk mengambil ibunya agar tinggal bersamanya, dng alasan, fasilitas kesehatan dll di kota jauh lbh lengkap drpd di desa,,

Namun Hizan menaolak dg alasan, selama ini ia mampu utk menjaga ibunya. Perseteruan ini tdk berhenti sampai di sini, hingga berlanjut ke pengadilan!!

Sidang demi sidang dilalui,, hingga sang hakim pun meminta agar sang ibu dihadirkan di majelis..

Kedua bersaudara ini membopong ibunya yg sdh tua renta yg beratnya sdh tdk sampai 40 Kg!!

Sang Hakim bertanya kpdnya, siapa yg lbh berhak tinggal bersamanya. Sang ibu memahami pertanyaan sang hakim, ia pun mnjawab , sambil menunjuk ke Hizan, “Ini mata kananku!”

kemudian menunjuk ke adiknya sambil berkata, “Ini mata kiriku!!

Sang Hakim brpikir sejenak kmudian memutuskan hak kpd adik Hizan, brdasar kemaslahatan2 bagi si ibu!!

Betapa mulia air mata yg dikucurkan oleh Hizan!!

Air mata penyesalan krn tdk bisa memelihara ibunya tatkala beliau tlh menginjak usia lanjutnya!!

Dan, betapa trhormat dan agungnya sang ibu!! yg diperebutkan oleh anak2nya hingga seperti ini,,!!

Andaikata kita bisa memahami, bagaimana sang ibu mendidik kedua putranya hingga ia mnjdi ratu dan mutiara termahal bagi anak2nya!!

Ini adalah pelajaran mahal ttng berbakti,, tatkala durhaka sudah menjadi budaya,,

“Ya ALLAH, Tuhan kami!! Anugerahkan kepada kami keridhoan ibu kami dan berilah kami kekuatan agar selalu bisa berbakti kepadanya!!” Aaamiiinn!!!

Sumber : redy.blog.ugm.ac.id

===========

http://salafiyunpad.wordpress.com/
FB SALAFIYUNPAD™
Twitter @salafiyunpad

Iklan
Gambar | Posted on by | Tag , , | 1 Komentar

NIKAH MUT’AH

NIKAH MUT'AH

Nikah Mut’ah

Nikah mut’ah telah dipraktikkan dengan bentuk yang paling buruk,para wanita telah dihinakan dengan sehina-hinanya. Sebahagian besar mereka memuaskan nafsu berahinya atas nama agama di balik tabir yang bernama mut’ah.

Mereka telah membawakan riwayat-riwayat yang memberikan motivasi untuk melakukan mut’ah,menetapkan dan memperinci pahalanya,serta hukuman atas orang yang meninggalkannya.Bahkan mereka yang tidak mut’ah dianggap kafir.Ash Shaduq meriwayatkan dari Ash Shadiq,dia berkata,”Sesungguhnya mut’ah adalah agamaku dan agama bapakku.Barangsiapa mengingkarinya,berarti dia mengingkari agama kami dan beraqidah selain agama kami.”(Man La Yahdhuruhu Al Faqih,3/366). Ini adalah pengkafiran terhadap orang yang menolak mut’ah.

Untuk menguatkan lagi mut’ah ini,nama Rasulullah pun dibawa-bawa,seperti ditulis dalam Man La Yahdhuruhu Al Faqih,3/366,”Barangsiapa melakukan mut’ah dengan seorang wanita,dia akan aman dari murka Allah,Yang Maha Memaksa. Barangsiapa melakukan mut’ah dua kali,dia akan dikumpulkan bersama orang-orang baik. Barangsiapa melakukan mut’ah tiga kali,dia akan berdampingan denganku di syurga.”

Semangat kata-kata inilah yang mendorong para ulama kota ilmu Najaf,wilayah para imam,melakukan mut’ah dengan banyak wanita.Seperti ulama Sayiid Shadr,Barwajardi,Syairazi,Qazwani,Sayyid Madani,dan banyak lagi yang lainnya.

Simaklah riwayat ini.Dari Sayyid Fathullah Al KAsyani,meriwayatkan dalam tafsir Manhaj Ash-Shadiqin,dari Nabi SAW,sesungguhnya beliau bersabda,”Barangsiapa melakukan mut’ah satu kali,darjatnya seperti Husain AS;yang melakukan dua kali,darjatnya seperti Hasan AS;yang melakukan tiga kali,darjatnya sama dengan Ali Bin Abu Talib;dan barangsiapa melakukan mut’ah empat kali,darjatnya sama seperti darjatku”.

Sungguh tidak masuk akal.Katakanlah jika ada seorang laki-laki jahat melakukan mut’ah sekali,darjatnya sama dengan Husain AS;lalu mut’ah dua kali,naik lagi darjatnya.Semudah itu??Apakah kedudukan Rasulullah SAW dan para imam sehina itu??Walau orang yang melakukan mut’ah telah sampai pada darjat keimanan yang tinggi,apakah darjatnya seperti darjat Husain,saudaranya,bapanya,atau datuknya?

Sang Imam Mut’ah dengan Anak Kecil
——————————————-
Ketika Imam Khomeini tinggal di Iraq,aku bolak-balik berkunjung kepadanya.Aku menuntut ilmu darinya sehingga hubungan antara aku dengannya menjadi erat sekali.Suatu waktu disepakati untuk menuju suatu kota dalam rangka memenuhi undangan,iaitu kota yang terletak disebelah barat Mosul,yang ditempuh lebih kurang setengah jam dengan kereta.

Imam Khomeini memintaku untuk pergi bersamanya.Kami disambut dan dimuliakan dengan pemuliaan yang sangat luar biasa selama kami tinggal di salah satu keluarga Syi’ah yang tinggal di sana.Dia telah menyatakan janji setia untuk menyebarkan fahaman Syi’ah diwilayah tersebut.

Ketika berakhir masa perjalanan kami kembali,di jalan,saat kami pulang,kami melewati Baghdad dan Imam Khomeini hendak beristirehat dari keletihan perjalanan.Maka dia memerintahkan menuju daerah peristirehatan di mana di sana tinggal seorang laki-laki asal Iran yang bernama Sayyid Shahib.Antara dia dan Imam terjalin hubungan persahabatan yang cukup kental.

Sayyid Shahib meminta kami untuk bermalam dirumahnya pada malam itu,dan Imam Khomeini pun menyutujuinya.

Ketika datang waktu Isya’,dihidangkan pada kami makan malam.Orang-orang yang hadir mencium tangan Imam dan menanyakan padanya beberapa masalah,dan Imam menjawabnya.

Ketika tiba saatnya untuk tidur dan orang-orang yang hadir sudah pulang,Imam Khomeini melihat anak perempuan yang masih kecil,umurnya sekitar lima tahun tetapi dia sangat cantik.Imam meminta kepada bapanya,iaitu Sayyid Shahib,untuk menghadirkan anak itu kepadanya agar dia melakukan mut’ah dengannya.Maka si bapa menyutujuinya dengan merasa senang sekali.Lalu Imam Khomeini tidur,dan anak perempuan itu ada dipelukannya,sedangkan kami mendengar tangis dan teriakan anak itu.

Malam pun berlalu.Ketika tiba waktu pagi,kami duduk dan menyantap makan pagi.Sang Imam melihat kepadaku dan diwajahku terlihat tanda-tanda tidak senang hati dan pengingkaran yang sangat jelas,kerana bagaimana mungkin dia melakukan mut’ah dengan anak yang masih kecil padahal didalam rumah ada gadis yang sudah baligh.

Imam Khomaini bertanya kepadaku,”Sayyid Husain,apa pendapatmu tentang melakukan mut’ah dengan anak kecil?”

Aku berkata kepadanya,”Ucapan yang paling tinggi adalah ucapanmu,yang benar adalah perbuatanmu,dan engkau adalah seorang imam mujtahid.Tidak mungkin bagiku berpendapat atau mengatakan kecuali sesuai dengan pendapat dan perkataanmu.Perlu difahami bahawa tidak mungkin bagiku untuk menentang fatwamu.”

Lalu dia berkata,”Sayyid Husain,sesungguhnya mut’ah dengan anak kecilitu hukumnya boleh tetapi hanya dengan cumbuan,ciuman,dan impitan peha.Adapun bersenggama,sesungguhnya ia belum kuat untuk melakukannya.”Lihat juga kitab Imam Khomeini yang berjudul Tahrir Al Wasilah,2/241,nombor 12,yang membolehkan mut’ah dengan anak yang masih disusui.

Mut’ah dengan Wanita Bersuami
————————————-
Sangat jelas,kerusakkan yang disebabkan oleh mut’ah sangat besar dan kompleks.

Diantaranya,pertama,menyalahi nash-nash syari’at,kerana menghalalkan apa yang diharamkan Allah.

Kedua,riwayat-riwayat dusta yang bermacam-macam dan panisbatannya kepada para imam, padahal didalamnya mengandung caci maki yang tidak diredhai oleh orang yang dalam hatinya terdapat sebiji sawi dari keimanan.

Ketiga,kerosakkan yang ditimbulkannya dengan membolehkan mut’ah dengan wanita yang sudah bersuami,walau ia ada dibawah penjagaan seorang lelaki tanpa diketahui oleh suaminya.Dalam keadaan ini seorang suami tidak akan merasa aman kepada istrinya kerana kemungkinan nanti istrinya nikah mut’ah dengan lelaki lain.Ini adalah kerosakan di atas kerosakkan!Tak dapat dibayangkan bagaimana perasaan seorang suami yang mengetahui istri yang berada di bawah perlindungannya mut’ah dengan lelaki lain.

Keempat,para bapa juga merasa tidak aman dengan anak perempuannya,kerana mungkin saja anaknya melakukan mut’ah tanpa izinnya lalu tiba-tiba hamil entah dengan siapa.

Kelima,kebanyakan orang yang melakukan mut’ah membolehkan diri mereka untuk nikah mut’ah tetapi akan berkeberatan kalau anaknya dinikahi dengan cara mut’ah.Dia sedar bahwa mut’ah ini mirip zina dan aib bagi dia tapi dia sendiri melakukan hal itu untuk anak orang.Kalaulah nikah mut’ah adalah sesuatu yang disyari’atkan,mengapa kebanyakan bapa merasa keberatan untuk membolehkan anak perempuan atau kerabatnya melakukan nikah mut’ah?

Keenam,dalam pernikahan mut’ah,tidak ada saksi,pengumuman,keredhaan wali wanita,dan tidak berlaku hukum waris suami-istri tetapi ia hanyalah seorang istri yang dikontrak.Pembolehan mut’ah akan membuka peluang bagi pemuda-pemudi untuk tenggelam dalam kubangan dosa sehingga akan merosak citra agama.

Jadi jelaslah bahaya mut’ah dari sisi kehidupan beragama,moral dan sosial.Sehingga mut’ah diharamkan,kerana mengandung bahaya yang banyak.

Dakwaan pengharaman hanya khusus berlaku pada hari Khaibar adalah dakwaan yang tidak berasaskan dalil.Di samping itu klaulah pangharaman mut’ah hanya berlaku pada hari Khaibar,tentu ada penegasan dari Rasulullah yang mengharamkan mut’ah.Makna perkataan bahwa nikah mut’ah diharamkan pada hari Khaibar ialah bahwa pengharamannya dimulai semenjak hari Khaibar sampai hari Kiamat.Adapun perkataan para ulama kami(ulama Syi’ah) adalah mempermainkan nash-nash syari’at.

Betapa banyak orang yang melakukan mut’ah menghimpun anak dan ibunya,wanita dan saudaranya,bapanya….dan kekacauan lain.

Seorang perempuan datang padaku menanyakan kejadian yang menimpa dirinya.Perempuan ini menceritakan bahwa ia pernah nikah mut’ah dengan tokoh dan ulama berpengaruh,Sayyid Husain Shadr,dua puluh tahun yang lalu,dan dia hamil.Setelah puas,tokoh ini menceraikannya.Ia bersumpah bahwa ia hamil sebagai hasil hubungan dengan Sayyid Shadr,kerana tidak ada yang mut’ah dengannya kecuali Sayyid Sahdr.Setelah anak gadisnya dewasa,ia menjadi gadis yang cantik dan siap menikah.Tapi ibunya menemukan sang anak telah hamil.Ketika ditanya tentang hal itu,ia mengatakan bahwa ia telah menikah mut’ah dengan Sayyid Shadr dan kehamilannya kerana nikah mut’ah itu.Sang ibu tercengang dan kehilangan kendali dan mengatakan bahwa Sayyid Shadr itu adalah ayahnya.Lalu ibu ini menceritakan kisah itu pada anaknya,darah dagingnya!Di Iran kejadian seperti itu sudah tidak terhitung banyaknya!

Mari kita simak firman Allah SWT,”Dan orang-orang yang tidak mampu menikah hendaklah menjaga kesucian dirinya sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya….”(QS An Nuur:33).

Barangsiapa belum mampu menikah secara syar’i kerana sedikitnya bekal yang dimilikinya,hendaklah dia menjaga kesucian diri sampai Allah mengaruniakan rezeki kepadanya hingga dia mampu.Kalaulah mut’ah dihalalkan,nescaya Allah tidak akan memerintahkan untuk menjaga kesucian dan menunggu sampai tiba waktunya dimudahkan baginya urusan pernikahan.

Telah sama-sama diketahui bahwa Islam datang untuk memerintahkan perbuatan-perbuatan yang utama dan melarang perbuatan-perbuatan yang tercela.Islam datang untuk mewujudkan kemaslahatan hamba dan agar jalan hidup mereka menjadi teratur.Sebaliknya tidak diragukan lagi bahwa mut’ah akan mengacau kehidupan.Mut’ah menyebarkan kerosakkan yang tidak terkira.

Sesungguhnya merebaknya praktik mut’ah akan menjerumuskan umat pada meminjamkan kemaluan.Meminjamkan kemaluan artinya seorang lelaki akan memberi isteri atau ibunya kepada lelaki lain.

Sangat disayangkan fatwa-fatwa meminjamkan kemaluan ini banyak didengungkan oleh para ulama Syi’ah,seperti As Sistani,Sayyid Shadr,Asy Syairazi,Ath Thabathabai,Al Barwajardi.Kebanyakan mereka membolehkan para tamu meminjam isteri mereka jika tamunya tertarik dan dipinjamkan selama tamu menginap.

Merupakan kewajipan kita untuk memberi peringatan kepada orang-orang awam atas perbuatan keji ini,agar mereka tidak menerima fatwa para tokoh yang memperbolehkan perbuatan yang tidak bermoral dan keji ini.

Perkaranya tidak hanya berhenti sampai di sini,bahkan memperbolehkan melakukan sodomi kepada para wanita.Mereka meriwayatkan beberapa riwayat dan menisbatkannya kepada para imam.

Sumber : Mengapa Saya keluar dari Syi’ah : Kesakasian Penulis Sebelum Dibunuh oleh :Sayyid Husain Al-Musawi.
http://www.facebook.com/photo.php?fbid=378217468938219&set=a.284661708293796.66368.272977956128838&type=1&theater

Gambar | Posted on by | Tag , | 2 Komentar

PERBEDAAN ANTARA “MASLAHAH MURSALAH” DAN “BID’AH”

PERBEDAAN ANTARA “MASLAHAH MURSALAH” DAN “BID’AH”

Saudaraku seiman, yang akan kita bahas kali ini sangatlah penting, yaitu persamaan dan perbedaan antara bid’ah dan mashalih mursalah. Dalam buku Mana Dalilnya 1, si penulis tak bisa membedakan antara bid’ah dan mashalih mursalah, akibatnya ia menggolongkan hal-hal yang merupakan mashalih mursalah ke dalam bid’ah[1]). Seperti ketika menjelaskan bid’ah wajib, ia mengatakan:
Bid’ah wajib ialah bid’ah yang harus dilakukan demi menjaga dan terwujudnya kewajiban yang telah ditetapkan Allah. Di antaranya adalah:

– Mengumpulkan ayat-ayat Al Qur’an menjadi satu mushaf demi menjaga keaslian Al Qur’an, karena telah banyak penghapal Al Qur’an yang meninggal dunia, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Khalifah Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma.

– Memberi titik dan harakat (garis tanda fathah, kasrah dan dzamma pada huruf-huruf Al Qur’an). Pada zaman Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin radhiyallahu ‘anhum, Al Qur’an ditulis tanpa titik dan harakat. Pemberian harakat dan titik baru dilakukan pada masa Tabi’in. Tujuannya adalah untuk menghindari kesalahan baca yang dapat menimbulkan salah pengertian dan penafsiran.

– Membukukan Hadits-hadits Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana yang telah dilakukan oleh Imam Bukhari, Muslim, dan ahli Hadits lainnya.

– Menulis buku-buku tafsir Al Qur’an demi menghindari salah penafsiran dan untuk memudahkan masyarakat memahami Al Qur’an.

– Membuat buku-buku fiqih sehingga hukum agama dapat diterapkan dengan baik dan mudah. [2])

Sebelum menjelaskan kerancuan klasifikasi di atas, yang memang banyak terjadi saat ini, ada baiknya kalau kita mengenal terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan mashalih mursalah itu.

Definisi Mashalih mursalah :

Istilah di atas merupakan salah satu istilah ushul fiqih yang masyhur, yang tersusun dari dua kata; mashalih (مَصَالِحٌ) dan mursalah (مُرْسَلَةٌ). Kata yang pertama adalah bentuk jamak dari ‘maslahah’ (مَصْلَحَةٌ) yang artinya manfaat/kemaslahatan. Sedangkan mursalah artinya yang diabaikan. Jadi mashalih mursalah secara bahasa artinya ialah kemaslahatan-kemaslahatan yang diabaikan.
Agar lebih jelas, kita harus tahu bahwa setiap kemaslahatan pasti tak lepas dari salah satu keadaan berikut;

1. MASLAHAH MU’TABARAH (kemaslahatan yang diperhitungkan)
Maslahah mu’tabarah pengertiannya ialah setiap manfaat yang diperhitungkan oleh syari’at berdasarkan dalil-dalil syar’i. Aplikasi dari maslahah mu’tabarah ini biasanya kita temui dalam masalah qiyas. Misalnya ketika syari’at mengharamkan khamer, sesungguhnya ada suatu alasan yang selalu diperhitungkan dalam hal ini, yaitu sifat memabukkan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كُلُّ مُسْكِرٍ خَمْرٌ وَكُلُّ خَمْرٍ حَرَامٌ (رواه مسلم رقم 2003).
“Setiap yang memabukkan adalah khamer, dan setiap khamer itu haram” (H.R. Muslim no 2003). Karenanya, segala sesuatu yang memabukkan -entah itu makanan, minuman, atau apapun- dihukumi sama dengan khamer. Qiyas semacam ini merupakan bentuk pengamalan akan maslahah mu’tabarah [3]). Karena dengan begitu kita dapat menjaga akal manusia dari segala sesuatu yang merusaknya, yang dalam hal ini adalah khamer. Sedangkan menjaga akal merupakan maslahah yang diperhitungkan oleh syari’at [4]).
Kesimpulannya, pengharaman setiap yang memabukkan seperti miras dan narkoba merupakan maslahah mu’tabarah.

2. MASLAHAH MULGHAAH (kemaslahatan yang dianggap batal )
Maslahah mulghaah ialah kemaslahatan yang dianggap batal oleh syari’at. Contohnya ialah maslahat yang terkandung dalam khamer dan perjudian. Allah Ta’ala berfirman,
(البقرة: من الآية 219)
Mereka bertanya kepadamu tentang khamer dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya…” (Al Baqarah: 219).
Allah menjelaskan dalam ayat ini bahwa khamer dan judi itu mengandung beberapa manfaat bagi manusia, namun demikian hukumnya haram sehingga manfaatnya dianggap batal oleh syari’at Islam. Inilah yang dinamakan maslahah mulghaah. Contoh lainnya ialah maslahat mencari kekayaan dengan cara menipu dan manipulasi. Kekayaan di sini merupakan maslahat, akan tetapi caranya bertentangan dengan syari’at, sehingga maslahat yang ditimbulkannya dianggap batal. Demikian pula wanita yang mencari uang lewat melacur umpamanya.

3. MASLAHAH MURSALAH (kemaslahatan yang terabaikan)
Adapun maslahah mursalah, maka tak ada dalil dalam syari’at yang secara tegas memperhitungkan maupun membatalkannya. Singkatnya, maslahah mursalah adalah maslahat-maslahat yang terabaikan –alias tidak ada dalil khusus yang menetapkan atau menolaknya,– namun ia sesuai dengan tujuan-tujuan syari’at [5]). Atau dengan bahasa yang lebih sederhana, kita tahu bahwa sesungguhnya syari’at ditegakkan di atas azas mendatangkan manfaat dan menolak madharat. Karenanya, segala sarana yang bisa mendatangkan manfaat bagi seorang muslim atau menolak mudharat darinya, boleh dipakai selama cara tersebut tidak bertentangan dengan syari’at[6]). Inilah sebenarnya hakekat mashalih mursalah, dan inilah yang sering dianggap bid’ah hasanah oleh sebagian orang yang tidak faham.

Untuk lebih jelasnya, ada beberapa persamaan antara bid’ah dan mashalih mursalah:

Maslahah Mursalah : Tidak dijumpai di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
Bid’ah : Tidak dijumpai di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Maslahah Mursalah : Tidak memiliki dalil khusus yang secara tegas berkaitan dengannya
Bid’ah : Tidak memiliki dalil khusus yang secara tegas berkaitan dengannya

Sedangkan perbedaan antara keduanya ialah:

Maslahah Mursalah : Bisa bertambah dan berkurang atau bahkan ditinggalkan sesuai dengan kebutuhan
Bid’ah : karena ia sekedar sarana &bukan tujuan hakiki, alias bukan ibadah yang berdiri sendiri.

Maslahah Mursalah : Bersifat paten dan dipertahankan hingga tidak bertambah atau berkurang,
Bid’ah : karena ia merupakan tujuan hakiki alias ibadah yang berdiri sendiri dan bukan sarana.

Maslahah Mursalah : Sebab-sebabnya belum ada di zaman Nabi; atau sudah ada tapi ada penghalangnya
Bid’ah : Sebab-sebabnya sudah ada di zaman Nabi dan tidak ada penghalangnya.

Maslahah Mursalah : Tidak mengandung unsur memberatkan, karena tujuan dasarnya ialah mencari kemaslahatan.
Bid’ah : Mengandung unsur memberatkan, karena tujuannya dasarnya untuk berlebihan dalam beribadah.

Maslahah Mursalah : Selaras dengan misi syari’at (maqashidus syari’ah)
Bid’ah : Tidak selaras dengan misi syari’at, bahkan cenderung merusaknya [7]).

Kalau kita merenungi perbedaan-perbedaan di atas, maka kerancuan yang terjadi dalam menentukan mana bid’ah dan mana maslahah mursalah bisa kita hindari. Jika salah satu ciri bid’ah di atas kita temukan dalam suatu masalah, maka ketahuilah bahwa ia termasuk bid’ah, demikian pula halnya dengan mashalih mursalah.

Kemudian perlu diketahui pula bahwa mashalih mursalah terbagi menjadi tiga: Dharuriyyah (bersifat darurat), Haajiyyah (diperlukan), dan Tahsiniyyah (sekedar tambahan/pelengkap). Contoh yang dharuriyyah ialah pembukuan Al Qur’an dalam satu mushaf, sedangkan contoh yang haajiyyah ialah membuat mihrab di masjid sebagai petunjuk arah kiblat; dan contoh yang tahsiniyyah seperti melakukan adzan awal sebelum adzan subuh[8]). Bertolak dari sini, kita akan menjawab semua yang dianggap bid’ah di atas:

1. Pembukuan Al Qur’an dalam satu Mushaf
Hal ini termasuk maslahah mursalah dharuriyyah karena beberapa alasan; pertama: ia merupakan sarana untuk menjaga keotentikan Al Qur’an dan bukan tujuan hakiki. Karenanya, sekarang Al Qur’an tidak sekedar berwujud mushaf, akan tetapi sudah direkam dalam kaset, CD, dan perangkat elektronik lainnya. Kedua: kendati sebab-sebabnya ada di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tapi ketika itu ada yang menghalangi para sahabat untuk membukukannya. Karena ketika itu Al Qur’an belum turun seluruhnya, dan sering terjadi nasekh (penghapusan hukum atau lafazh ayat tertentu). Padahal alasan untuk membukukan sudah ada, dan sarana tulis-menulis pun ada. Ketiga: dengan dibukukan dalam satu mushaf, penjagaan akan keotentikan Al Qur’an jadi lebih mudah.
Lebih dari itu, penulisan Al Qur’an dalam satu mushaf merupakan sunnah-nya Khulafa’ur Rasyidin, jadi tidak bisa dikatakan sebagai bid’ah [9]).

2. Pemberian titik dan harakat pada huruf-huruf Al Qur’an.
Sebagaimana pendahulunya, hal ini bukanlah bid’ah namun termasuk maslahah mursalah dharuriyyah jika dilihat dari tiga sisi. Pertama: ia merupakan cara/wasilah agar orang tak keliru membaca ayat, tapi bukan tujuan hakiki dan ibadah yang berdiri sendiri. Karenanya cara tersebut bisa ditambah/diperlengkap sesuai kebutuhan, seperti tanda-tanda waqaf, saktah, isymam, dan semisalnya. Kedua: sebab-sebabnya belum ada di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena para sahabat semuanya fasih dalam berbahasa Arab, sehingga mereka tak perlu pakai titik dan harakat dalam membaca teks Arab, apalagi sebagian besar mereka masih mengandalkan kekuatan hafalan daripada tulis-menulis. Ketika banyak orang ‘ajam (non Arab) yang masuk Islam, otomatis mereka tak mampu membaca huruf Arab yang gundul tanpa titik dan harakat tadi. Maka diberilah tanda-tanda tertentu sebagai pedoman membaca. Ketiga: tujuannya jelas untuk mempermudah membaca Al Qur’an.

3. Membukukan hadits-hadits Nabi.
Ini pun termasuk maslahah mursalah dharuriyyah karena beberapa hal. Pertama: ia merupakan sarana untuk mengumpulkan dan mengabadikan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan bukan ibadah yang berdiri sendiri. Karenanya metode yang digunakan pun berubah-ubah sesuai kebutuhan[10]). Kedua: belum ada sebab-sebab yang mendorong hal itu di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena saat itu belum ada pemalsuan hadits, dan periwayatan hadits berada di tangan Rasulullah sendiri dan orang-orang yang jujur dan terpercaya. Namun ketika terjadi fitnah antara Ali radhiyallahu ‘anhu dan Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu, para pendukung dari masing-masing golongan mulai berani memalsukan hadits atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tujuan mengunggulkan pemimpin masing-masing, tambah lagi periwayatan hadits pun semakin meluas dan mencakup setiap golongan, baik yang jujur dan kuat hafalannya, maupun yang pendusta dan sering lupa. Karenanya para ulama terdorong untuk membukukan hadits dan menjelaskan derajat hadits tersebut. Ketiga: tujuannya jelas untuk mendekatkan kaum muslimin kepada Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar mudah dibaca dan diamalkan.

Lebih lagi dengan memperhatikan sifat MASLAHAH MURSALAH yang disyaratkan: harus sesuai dengan tujuan-tujuan syari’at, jelas sekali bahwa meski kesemuanya ini tidak memiliki dalil khusus yang menetapkan maupun menolaknya, namun semuanya selaras dengan misi syari’at yang antara lain bertujuan menjaga dien(agama).

Demikian pula dengan contoh keempat dan kelima yang disebutkan oleh Novel di atas. Itu semua termasuk maslahah mursalah yang berkisar antara dharuriyyah atau haajiyyah, dan tidak ada kaitannya dengan bid’ah hasanah kalau kita terapkan penalaran tadi.

Contoh lain dari maslahah mursalah yang sering dianggap bid’ah ialah penggunaan mikrofon dan karpet di masjid-masjid, berangkat haji dengan pesawat terbang, makan dengan sendok dan garpu, cara berpakaian, dan sebagainya. Mereka yang menganggapnya bid’ah hendak menyamakannya dengan tahlilan, shalawatan, peringatan 7 harian, 40 harian, 100 harian, dan bid’ah-bid’ah lainnya. Sehingga masyarakat jadi serba sulit kalau ingin membid’ahkan hal-hal semacam ini. Untuk itu, maka perlu di bahas permasalahan ini dengan menerapkan kaidah pembeda antara bid’ah dengan maslahah mursalah.

4. Penggunaan mikrofon di masjid-masjid
Hal ini sama sekali bukan bid’ah secara syar’i, mengapa? Pertama: karena mikrofon hanyalah sarana untuk memperluas jangkauan adzan, ceramah, dan sebagainya; dan alasan ini didukung oleh syari’at. Buktinya ialah disunnahkannya memilih muadzin yang bersuara lantang. Ini jelas menunjukkan bahwa ia sekedar sarana dan bukan ibadah yang berdiri sendiri. Artinya tidak ada seorang pun yang meyakini bahwa dengan menggunakan mikrofon pahalanya akan bertambah. Begitu pula kalau sekali waktu mikrofon itu ngadat, aktivitas tetap berjalan tanpa kurang suatu apa, karena ia tak lebih dari sekedar alat. Kedua: alat seperti ini belum ada di zaman Rasulullah, karenanya keberadaannya sekarang bukanlah bid’ah secara syar’i. Ketiga: ia bertujuan mempermudah, bukan memberatkan.

5. Berangkat haji dengan pesawat terbang
Hal ini juga sering diidentikkan dengan bid’ah[11]). Tentunya dengan logika yang dangkal pun kita bisa membantahnya… Memang apa sangkut-pautnya antara ibadah haji dan kendaraan yang kita naiki? Adakah seseorang meyakini bahwa dengan naik pesawat hajinya jadi lebih mabrur? Tentu tidak. Ia tak ubahnya seperti orang yang berangkat shalat jum’at dengan naik mobil, sepeda motor, becak, atau kendaraan lainnya. Sama sekali tak terbetik dalam benaknya bahwa kendaraan yang ia tumpangi memberikan nilai plus terhadap ibadahnya. Apa lagi kalau dilihat dari segi sebabnya, jelas di zaman Nabi belum ada sebab-sebab terwujudnya pesawat terbang. Demikian pula dengan fungsinya yang hanya sebagai sarana transportasi belaka. Juga dari sifatnya yang mengikuti perkembangan teknologi. Kalau dahulu kaum muslimin berangkat haji dengan mengendarai unta atau berjalan kaki, kemudian terus berkembang hingga kira-kira di awal abad 20 mulai digunakan kendaraan bermotor dan kapal laut, maka saat ini mereka menggunakan pesawat terbang. Entah kendaraan apa yang akan digunakan seabad kemudian…
Adapun cara makan, jika dilakukan dengan menyerupai orang kafir, atau berangkat dari keyakinan tertentu seperti menghindari jenis makanan tertentu yang dihalalkan dengan niat taqarrub kepada Allah Ta’ala, padahal tidak ada anjuran untuk itu; maka ia termasuk bid’ah. Namun jika tidak demikian maka tidak termasuk bid’ah.
Demikian pula dengan cara berpakaian, ia tidak bisa dikategorikan sebagai bid’ah selama tidak menyerupai orang kafir, atau dilakukan cara tertentu yang tidak berdasar kepada dalil tapi diiringi i’tikad bahwa hal tersebut dianjurkan dalam Islam.

Penulis: Ustadz Abu Hudzaifah Al Atsary, Lc
Mahasiswa Magister ‘Ulumul Hadits wad Dirosah Islamiyah Univ. Islam Madinah

[1]) Demikian pula setiap orang yang mengatakan adanya bid’ah hasanah, pasti ia mencampuradukkan antara bid’ah dengan mashalih mursalah.
[2]) Mana Dalilnya 1, hal 29.
[3]) Lihat Mudzakkirah fi Ushulil Fiqh hal 201, oleh Syaikh Al ‘Allamah Muhammad Al Amin Asy Syinqithy, cet Maktabatul ‘Ulum wal Hikam, Madinah Saudi Arabia.
[4]) Para ulama menyebutkan bahwa misi setiap syari’at (maqashidu asy syari’ah) itu ada lima:
Menjaga dien (agama).
Menjaga jiwa.
3. Menjaga akal.
Menjaga keturunan.
Menjaga harta. Ada pula yang menambahnya dengan:
Menjaga kehormatan.
(lihat Al Ihkam, 3/274 oleh Al Aamidy, ta’liq Syaikh Abdurrazzaq Al ‘Afify cet. Al Maktabul Islamy; Al Bahrul Muhith (كتبا القياس, تقسيم المناسب) oleh Badruddien Az Zarkasyi; Syarh Al Kaukabul Munier (باب القياس, الرابع من مسالك العلة المناسبة) oleh Al Futuhy.
[5]) Lihat: Mukhtasar Al I’tisham hal 101 oleh Imam Asy Syathiby. Ikhtisar oleh Sayyid ‘Alawi bin Abdul Qadir Assaqqaf, cet 1 1418H Daarul Hijrah, Riyadh – Saudi Arabia.
[6]) Lihat: Al Inshaf, 26-28.
[7]) Lihat Qawa’id fi Ma’rifatil Bida’, oleh DR. Muhammad Husein Al Jezany.
[8]) Ibid, hal 29-30.
[9]) Bandingkan dengan bid’ahnya majelis dzikir jama’ah yang sering terlihat di televisi umpamanya. Pertama: hal tersebut adalah tujuan hakiki, bukan sekedar sarana; karenanya ia dianggap sebagai ibadah yang berdiri sendiri. Kedua: sebab-sebab untuk mengadakannya sudah ada di zaman Nabi; dan tidak ada yang menghalangi para sahabat untuk melakukannnya. Ketiga: ia mengandung unsur memberatkan karena sifatnya menambah aktivitas ibadah seseorang. Keempat: tidak sesuai dengan misi syari’at dan dalil syar’i, diantaranya firman Allah yang maknanya: “Dan berdzikirlah kepada Rabb-mu dalam hatimu dengan khusyu’ dan rasa takut, serta dengan tidak mengeraskan suara, baik di pagi maupun petang hari…” (Al A’raf: 205).
[10]) Ada yang mengumpulkan berdasarkan nama sahabat yang meriwayatkannya (seperti kitab-kitab musnad); ada pula yang berdasarkan topik-topik tertentu dengan hanya memasukkan yang shahih saja (disebut Jaami’, seperti Al Jaami’us Shahih atau Shahih Bukhari dan Shahih Muslim); ada lagi yang khusus berkenaan dengan masalah fiqih (disebut Sunan, seperti Sunan Abu Dawud, An Nasa’i, Ibnu Majah, dll), dan seterusnya. Ini menandakan bahwa penyusunnya tidak mempertahankan model tertentu tapi sewaktu-waktu dapat ditinggalkan.

[11] Dalam buku Mana Dalilnya hal 31, Novel menggolongkannya dalam bid’ah mubah

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

THAGHUT. SIAPAKAH THAGHUT

SIAPAKAH THAGHUT
=============

Oleh : Ust. Abu Sulaiman Aman Abdurrahman

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Thaghut adalah segala yang dilampaui batasnya oleh hamba, baik itu yang diikuti atau ditaati atau diibadati. Thaghut itu banyak, apalagi pada masa sekarang. Adapun pentolan-pentolan thaghut itu ada 5, di antaranya:

1. Syaithan

Syaitan yang mengajak ibadah kepada selain Allah. Adapun tentang makna ibadah tersebut dan macam-macamnya telah anda pahami dalam uraian sebelumnya. Syaitan ada dua macam: Syaitan Jin dan Syaitan Manusia. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الإنْسِ وَالْجِنِّ

“Dan begitulah Kami jadikan bagi tiap nabi musuhnya yang terdiri dari syaitan-syaitan manusia dan jin” (QS. Al An’am [6]: 112)

Dan firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala:
الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ (٥) مِنَ الْجِنَّةِ وَ النَّاسِ

“Yang membisikkan kedalam dada-dada manusia, dari golongn jin dan manusia” (QS. An Naas [114]: 5-6)

Orang mengajak untuk mempertahankan tradisi tumbal dan sesajen, dia adalah syaitan manusia yang mengajak ibadah kepada selain Allah.

Tokoh yang mengajak minta-minta kepada orang yang sudah mati adalah syaitan manusia dan dia adalah salah satu pentolan thaghut.

Orang yang mengajak pada system demokrasi adalah syaitan yang mengajak ibadah kepada selain Allah, dia berarti termasuk thaghut.

Orang yang mengajak menegakkan hukum perundang-undangan buatan manusia, maka dia adalah syaitan yang mengajak beribadah kepada selain Allah.

Orang yang mengajak kepada paham-paham syirik (seperti: sosialis, kapitalis, liberalis, dan falsafah syirik lainnya), maka dia adalah syaitan yang mengajak beribadah kepada selain Allah, sedangkan Dia Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَا بَنِي آدَمَ أَنْ لا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Bukankan Aku memerintahkan kalian wahai anak-anak Adam: “Janganlah ibadati syaitan, sesungguhnya ia adalah musuh yang nyata bagi kalian” (QS. Yaasin [36]: 60)

2. Penguasa Yang Zhalim

Penguasa zhalim yang merubah aturan-aturan (hukum) Allah, thaghut semacam ini adalah banyak sekali dan sudah bersifat lembaga resmi pemerintahan negara-negara pada umumnya di zaman sekarang ini. Contohnya tidaklah jauh seperti parlemen, lembaga inilah yang memegang kedaulatan dan wewenang pembuatan hukum/undang-undang. Lembaga ini akan membuat hukum atau tidak, dan baik hukum yang digulirkan itu seperti hukum Islam atau menyelisihinya maka tetap saja lembaga berikut anggota-anggotanya ini adalah thaghut, meskipun sebahagiannya mengaku memperjuangkan syari’at Islam. Begitu juga Presiden/ Raja/Emir atau para bawahannya yang suka membuat SK atau TAP yang menyelisihi aturan Allah, mereka itu adalah thaghut.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Di kala seseorang menghalalkan yang haram yang telah diijmakan atau merubah aturan yang sudah diijmakan, maka dia kafir lagi murtad dengan kesepakatan para fuqaha” (Majmu Al Fatawa)

Ketahuilah wahai saudaraku, sesungguhnya para anggota parlemen itu adalah thaghut, tidak peduli darimana saja asal kelompok atau partainya. Presiden dan para pembantunya, seperti menteri-menteri di negara yang bersistem syirik adalah thaghut, sedangkan para aparat keamanannya adalah sadanah (juru kunci) thaghut apapun status kepercayaan yang mereka klaim.

Orang-orang yang berjanji setia pada system syirik dan hukum thaghut adalah budak-budak (penyembah/hamba) thaghut. Orang yang mengadukan perkaranya kepada pengadilan thaghut disebut orang yang berhukum kepada thaghut, sebagaimana firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala:
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ

“Apakah engkau tidak melihat kepada orang-orang yang mengaku beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu dan apa yang dturunkan sebelum kamu, sedangkan mereka hendak berhukum kepada thaghut, padahal mereka telah diperintahkan untuk kafir terhadapnya” (QS. An Nisaa’ [4]: 60)

3. Orang yang memutuskan dengan selain apa yang telah Allah turunkan.

Kepala suku dan kepala adat yang memutuskan perkara dengan hukum adat adalah kafir dan termasuk thaghut. Jaksa dan Hakim yang memvonis bukan dengan hukum Allah, tetapi berdasarkan hukum/undang-undang buatan manusia, maka sesungguhnya dia itu Thaghut. Aparat dan pejabat yang memutuskan perkara berdasarkan Undang Undang Dasar thaghut adalah thagut juga. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

“Dan siapa saja yang tidak memutuskan dengan apa yang Allah turunkan, maka merekalah orang-orang kafir itu” (QS. Al Maidah [5]: 44)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Siapa yang meninggalkan aturan baku yang diturunkan kepada Muhammad Ibnu Abdillah penutup para nabi dan dia justru merujuk pada aturan-aturan (hukum) yang sudah dinasakh (dihapus), maka dia telah kafir. Apa gerangan dengan orang yang merujuk hukum Ilyasa (Yasiq) dan lebih mendahulukannya daripada aturan Muhammad maka dia kafir berdasarkan ijma kaum muslimin” (Al Bidayah: 13/119).

Sedangkan Ilyasa (Yasiq) adalah hukum buatan Jengis Khan yang berisi campuran hukum dari Taurat, Injil, Al Qur’an.

Orang yang lebih mendahulukan hukum buatan manusia dan adat daripada aturan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka dia itu kafir.

Dalam ajaran Tauhid, seseorang lebih baik hilang jiwa dan hartanya daripada dia mengajukan perkaranya kepada hukum thaghut, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ

“Fitnah (syirik & kekafiran) itu lebih dahsyat dari pembunuhan” (QS. Al Baqarah [2]: 191)

Syaikh Sulaiman Ibnu Sahman rahimahullah berkata: “Seandainya penduduk desa dan penduduk kota perang saudara hingga semua jiwa musnah, tentu itu lebih ringan daripada mereka mengangkat thaghut di bumi ini yang memutuskan (persengketaan mereka itu) dengan selain Syari’at Allah” (Ad Durar As Saniyyah: 10 Bahasan Thaghut)

Bila kita mengaitkan ini dengan realita kehidupan, ternyata umumnya manusia menjadi hamba thaghut dan berlomba-lomba meraih perbudakan ini. Mereka rela mengeluarkan biaya berapa saja (berkolusi; menyogok/risywah) untuk menjadi Abdi Negara dalam sistem thaghut, mereka mukmin kepada thaghut dan kafir terhadap Allah. Sungguh buruklah status mereka ini…!!

4. Orang yang mengaku mengetahui hal yang ghaib selain Allah.

Semua yang ghaib hanya ada di Tangan Allah, Dia Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
عَالِمُ الْغَيْبِ فَلا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا

“Dialah Dzat yang mengetahui hal yang ghaib, tetapi Dia tidak menampakan yang ghaib itu kepada seorangpun” (QS. Al Jin [72]: 26)

Bila ada orang yang mengaku mengetahui hal yang ghaib, maka dia adalah thaghut, seperti dukun, paranormal, tukang ramal, tukang tenung, dsb. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwa orang yang mendatangi dukun atau tukang ramal dan dia mempercayainya, maka dia telah kafir, dan maka apa gerangan dengan status si dukunnya itu sendiri…?! tentu lebih kafir lagi…

5. Orang yang diibadati selain allah dan dia ridha dengan peribadatan itu.

Orang yang senang bila dikultuskan, sungguh dia adalah thaghut. Orang yang membuat aturan yang menyelisihi aturan Allah dan Rasul-Nya adalah thaghut.

Orang yang mengatakan “Saya adalah anggota badan legislatif” adalah sama dengan ucapan: “Saya adalah Tuhan”, karena orang-orang di badan legislatif itu sudah merampas hak khusus Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yaitu hak membuat hukum (undang-undang). Mereka senang bila hukum yang mereka gulirkan itu ditaati lagi dilaksanakan, maka mereka adalah thaghut. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَمَنْ يَقُلْ مِنْهُمْ إِنِّي إِلَهٌ مِنْ دُونِهِ فَذَلِكَ نَجْزِيهِ جَهَنَّمَ كَذَلِكَ نَجْزِي الظَّالِمِينَ

“Dan barang siapa yang mengatakan di antara mereka; “Sesungguhnya Aku adalah Tuhan selain Allah” maka Kami membalas dia dengan Jahannam, begitulah Kami membalas orang-orang yang zalim” (QS. Al Anbiya [21]: 29)

Itulah tokoh-tokoh thaghut di dunia ini…

Orang tidak dikatakan beriman kepada Allah sehingga dia kufur kepada thaghut, kufur kepada thaghut adalah separuh Laa ilaaha ilallaah. Thaghut yang paling berbahaya pada masa sekarang adalah thaghut hukum, yaitu para penguasa yang MEMBABAT aturan Allah, mereka menindas umat ini dengan besi dan api, mereka paksakan kehendaknya, mereka membunuh, menculik, dan memenjarakan kaum muwahhidin yang menolak tunduk kepada hukum mereka. Akan tetapi anehnya banyak orang yang mengaku beragama Islam berlomba-lomba untuk menjadi budak dan hamba mereka. Mereka juga memiliki ulama-ulama jahat yang siap mengabdikan lisan dan pena demi kepentingan ‘tuhan’ mereka.

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala cepat membersihkan negeri kaum muslimin dari para thaghut dan kaki tangannya, Aamiin ya Rabbal ‘aalamiin (millahibrahim.wordpress.com)

Sumber : http://www.facebook.com/photo.php?fbid=358153400944626&set=a.355103691249597.85905.272977956128838&type=1&theater

Dipublikasi di Uncategorized | Tag | Meninggalkan komentar

Hidup Serba Prihatin, Nelayan Butuh Perlindungan

Hidup Serba Prihatin, Nelayan Butuh Perlindungan

Sejumlah akademisi dan politisi mendesak pemerintah membuat undang-undang yang mengatur perlindungan terhadap nelayan. Hal ini penting untuk menjamin kehidupan nelayan dalam situasi apapun. “Saatnya Pemerintah peduli terhadap kesejateraan dan keamanan nelayan. Jangan ada lagi kriminalisasi” kata Sekretaris Jenderal Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan, M. Riza Damanik,  Rabu, 16 Januari 2013.

Dalam Temu Akbar Nelayan Indonesia 2013 di Gedung Joang 45, Jakarta, hari ini, Riza mengatakan kehidupan nelayan memprihatinkan baik dari sisi ekonomi maupun sosial budaya. “Kehidupan mereka semakin memprihatinkan manakala sering berurusan dengan penegak hukum,” ujarnya. “Banyak kasus nelayan yang mencoba mengusir para pencuri ikan, kok justru mereka yang ditangkap.”

Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Sri Edi Swasono, menambahkan pemberdayaan nelayan dipastikan tidak akan memberatkan keuangan negara. Dengan pemberdayaan dan perlindungan terhadap nelayan justru akan menguatkan sistem keamanan digaris pantai. “Makin sejahtera nelayan maka makin besar perannya mengamankan kedaulatan bangsa,” ucapnya.

Sri Edi yang juga menjabat sebagai Penasihat Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional dan Kepala Bappenas menambahkan, negara mengembalikan sistem ekonomi pada ekonomi kerakyatan tanpa mengenyampingkan globalisasi, perdagan dunia serta perdagangan bebas Asia. “Sayangnya yang terjadi sekarang ini, pembanguan identik dengan menggusur orang miskin bukan menggusur kemiskinan.”

Wakil Ketua DPR, Pramomo Anung Wibowo, sependapat dengan tututan agar pemerintah dan legislatif mengeluarkan undang-undang pro-nelayan. Menjelang Pemilu biasanya Pemerintah dan DPR tidak sulit mengeluarkan kebijakan yang menyentuh kepentingan rakyat. “Secepatnya melakukan lobi-lobi pada pemerintah. Masih ada waktu setahun lebih untuk mewujudkannya,” katanya.

Sumber : PARLIZA HENDRAWAN di TEMPO.CO, Jakarta.

http://id.berita.yahoo.com/hidup-serba-prihatin-nelayan-butuh-perlindungan-060433776–finance.html

 

Dipublikasi di Uncategorized | Tag | Meninggalkan komentar

Fakta Hukum Dasar Negara Republik Indonesia

Bagaimana Abu Syamil Aulia? Mohon tanggapannya dr sisi hukum tata negara..

Ternyata Dasar Negara Indonesia Bukan Pancasila Tapi Allah SWT

Pertanyaan

Assalamualaikum Wr. Wb.

Ana tertarik dengan apa yang disampaikan Bapak Eggi Sudjana di salah satu stasiun tv swasta, beliau menyampaikan bahwa dasar hukum negara indonesia yang benar adalah hukum Allah SWT

Beliau berpijak dari sisi history dan sosiologi bahwa sesuai dengan pembukaan UUD 1945 negara indonesia berdasarkan atas Ketuhanan YME, dan hanya atas berkat rahmat Allah SWT Indonesia dapat merdeka.

Saya yakin kalau hukum yang bersumber dari Allah SWT ini dapat di terapkan, kita akan bahagia dunia akhirat

Mohon tanggapan Pak Ustadz…!

Terima kasih

Wassalam

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullah wabarakatuh,

Memang cukup mengejutkan juga apa yang disampaikan oleh Dr Eggi Sudjana SH MSi dalam talkshow di TV swasta malam itu. Beliau menyebutkan bahwa kalau dicermati, ternyata justru negara Indonesia ini secara hukum bukanlah berdasarkan Pancasila. Sebaliknya, di dalam UUD 45 malah ditegaskan bahwa dasar negara kita adalah Ketuhanan Yang Maha Esa.

Dan sesuai dengan Preambule atau Pembukaan UUD 1945, Tuhan yang dimaksud tidak lain adalah Allah subhanahu wata’ala. Sehingga secara hukum jelas sekali bahwa dasar negara kita ini adalah Islam atau hukum Allah SWT.

Pernyataan itu muncul saat berdebat dengan Abdul Muqsith yang mewakili kalangan AKK-BB. Saat itu Abdul Muqsith menyatakan bahwa Indonesia bukan negara Islam, bukan berdasarkan Al-Quran dan hadits, tetapi berdasarkan Pancasila dan UUD 45.

Mungkin maunya Abdul Muqsith menegaskan bahwa Ahmadiyah boleh saja melakukan kegiatan yang bertentangan dengan ajaran Islam, toh negara kita kan bukan negara Islam, bukan berdasarkan Quran dan Sunnah.

Tetapi tiba-tiba Mas Eggi balik bertanya tentang siapa yang bilang bahwa dasar negara kita ini Pancasila? Mana dasar hukumnya kita mengatakan itu?

Abdul Muqsith cukup kaget diserang seperti itu. Rupanya dia tidak siap ketika diminta untuk menyebutkan dasar ungkapan bahwa negara kita ini berdasarkan Pancasila dan UUD 45.

Saat itulah mas Eggi langsung menyebutkan bahwa yang ada justru UUD 45 menyebutkan tentang dasar negara kita adalah Ketuhanan Yang Maha Esa, bukan Pancasila. Sebagaimana yang disebutkan dalam UUD 45 pasal 29 ayat 1.

Kalau dipikir-pikir, ada benarnya juga apa yang dikatakan oleh Eggi Sujana itu. Iya ya, mana teks resmi yang menyebutkan bahwa dasar negara kita ini Pancasila. Kita yang awam ini agak terperangah juga mendengar seruan itu.

Entahlah apa ada ahli hukum lain yang bisa menjawabnya. Yang jelas si Abdul Muqsith itu hanya bisa diam saja, tanpa bisa menjawab apa yang ditegaskan leh Eggi Sujana.

Dan rasanya kita memang tidak atau belum menemukan teks resmi yang menyebutkan bahwa dasar negara kita ini Pancasila.

Diskusi itu menjadi menarik, lantaran kita baru saja tersadar bahwa dasar negara kita menurut UUD 45 ternyata bukan Pancasila sebagaimana yang sering kita hafal selama ini sejak SD. Pasal 29 UUD 45 aya 1 memang menyebutkan begini:

1. Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa

Lalu siapakah tuhan yang dimaksud dalam pasal ini, jawabannya menurut Eggi adalah Allah SWT. Karena di pembukaan UUD 45 memang telah disebutkan secara tegas tentang kemerdekaan Indonesia yang merupakan berkat rahmat Allah SWT.

Dalam argumentasi mas Eggi, yang namanya batang tubuh dengan pembukaan tidak boleh terpisah-pisah atau berlawanan. Kalau di batang tubuh yaitu pasal 29 ayat 1 disebutkan bahwa negara berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, maka Tuhan itu bukan sekedar Maha Esa, juga bukan berarti tuhannya semua agama. Tetapi tuhannnya umat Islam, yaitu Allah SWT.

Hal itu lantaran secara tegas Pembukaan UUD 45 menyebutkan lafadz Allah SWT. Dan hal itu tidak boleh ditafsirkan menjadi segala macam tuhan, bukan asal tuhan dan bukan tuhan-tuhan buat agama lain. Tuhan Yang Maha Esa di pasal 29 ayat 1 itu harus dipahami sebagai Allah SWT, bukan Yesus, bukan Bunda Maria, bukan Sidharta Gautama, bukan dewa atau pun tuhan-tuhan yang lain.

Lepas apakah nanti ada ahli hukum tata negara yang bisa menepis pandangan Eggi Sujana itu, yang pasti Abdul Muqsith tidak bisa menjawabnya. Dan pandangan bahwa negara kita ini bukan negara Islam serta tidak berdasarkan Quran dan Sunnah, secara jujur harus kita akui harus dikoreksi kembali.

Sebab kalau kita lihat latar belakang semangat dan juga sejarah terbentuknya UUD 45 oleh para pendiri negeri ini, nuansa Islam sangat kental. Bahkan ada opsi yang cukup lama untuk menjadikan negara Indonesia ini sebagai negara Islam yang formal.

Bahkan awalnya, sila pertama dari Pancasila itu masih ada tambahan 7 kata, yaitu: dengan menjalankan syariat Islam bagi para pemeluknya.

Namun lewat tipu muslihat dan kebohongan yang nyata, dan tentunya perdebatan panjang, 7 kata itu harus dihapuskan. Sekedar memperhatikan kepentingan kalangan Kristen yang merasa keberatan dan main ancam mau memisahkan diri dari NKRI.

Padahal 7 kata itu sama sekali tidak mengusik kepentingan agama dan ibadah mereka. Toh Indonesia ini memang mayoritas muslim, tetapi betapa lucunya, tatkala pihak mayoritas mau menetapkan hukum di dalam lingkungan mereka sendiri lewat Pancasila, kok bisa-bisanya orang-orang di luar agama Islam pakai acara protes segala. Padahal apa urusannya mereka dengan 7 kata itu.

Kalau dipikir-pikir, betapa tidak etisnya kalangan Kristen saat awal kita mendirikan negara, di mana mereka sudah ikut campur urusan agama lain, yang mayoritas pula. Sampai mereka berani nekat mau memisahkan diri sambil berdusta bahwa Indoesia bagian timur akan segera memisahkan diri kalau 7 kata itu tidak dihapus.

Akhirnya dengan legowo para ulama dan pendiri negara ini menghapus 7 kata itu, demi untuk persatuan dan kesatuan. Tapi apa lacur, air susu dibalas air tuba. Alih-alih duduk rukun dan akur, kalangan Kristen yang didukung kalangan sekuler itu tidak pernah berhenti ingin menyingkirkan Islam dari negara ini.

Dan semangat penyingkiran Islam dari negara semakin menjadi-jadi dengan adanya penekanan asas tunggal di zaman Soeharto. Semua ormas apalagi orsospol wajib berasas Pancasila.

Sesuatu yang di dalam UUD 45 tidak pernah disebut-sebut. Malah yang disebut justru negara ini berdarakan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa. Dan Tuhan yang dimaksud itu adalah Allah SWT sesuai dengan yang tercantum di dalam Pembukaan UUD 45.

Jadi sangat tepat kalau kalangan sekuler harus sibuk membuka-buka kembali literatur untuk cari-cari argumen yang sekiranya bisa membuat Islam jauh dari negara ini.

Namanya perjuangan, pasti mereka akan terus mencari dan mencari argumen-argumen yang sekiranya bisa dijadikan bahan untuk dijadikan alibi yang menjauhkan Islam dari negara. Sebab mereka memang alergi dengan Islam. Seolah-olah Islam itu harus dimusuhi, atau merupakan bahaya laten yang harus diwaspadai.

Kita harus akui bahwa kalangan sekuler anti Islam itu cukup banyak. Dalam kepala mereka, mungkin lebih baik negara ini menajdi komunis dari pada jadi negara Islam. Astaghfirullahaladzhim.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullah wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

___________________________________________________

Catat!!! Ternyata Dasar Negara Indonesia Bukan Pancasila

*Negara Indonesia secara HUKUM bukanlah berdasarkan Pancasila.

*Sebaliknya,di UUD 1945,malah Di TEGASKAN bahwa dasar negara Indonesia adalah Ketuhanan Yang Maha Esa.

*Dan sesuai dengan preambule atau Pembukaan uud 1945.TUHAN YANG DIMAKSUD TIDAK LAIN ADALAH ALLAH SUBHANAHU WATA’ALA.

*Sehingga secara HUKUM jelas sekali bahwa dasar negara indonesia adalah ISLAM ATAU HUKUM ALLAH SUBHANAHU WATA’ALA.

*Fakta yang terang benderang Dan Mereka Kaum Sekuler Melakukan Pembodohan Selama 62 Tahun Dari mulai Indonesia memperoleh Kemerdekaan.

*Sesungguhnya para Pendiri bangsa sudah jelas menyatakan Indonesia adalah berkat rahmat Allah subhanahu wata’ala.dan hukum tertinggi adalah hukum Allah SWT.

*Ahli hukum mana yang membantah? Sumber hukum tertinggi Indonesia adalah uud 1945.

*Inilah fakta sejarah yang hilang dan disembunyikan. dan menjadi sebab semakin kacau dan semakin terpuruknya negeri Indonesia ini.Karena antek-antek Amerika telah menutupi aura bangsa Indonesia ini. Indoneisa sekarang bukanlah bangsa, Tapi hanya boneka Amerika.

SEBARKAN FAKTA INI… !!!

Sumber : http://www.facebook.com/photo.php?fbid=323528634420160&set=a.189364361169922.32569.189344087838616&type=1&theater

Dipublikasi di Inspirasi, Islam, Palembang Darussalam, Pembangunan Nasional, Uncategorized | Tag , | Meninggalkan komentar

Pengisian DIPA Harus “ONLINE” dan Penyusunan Anggaran Berdasarkan Prioritas

Ekonom dari PT Samuel Sekuritas Indonesia Lana Soelistianingsih mengatakan pemerintah harus menggunakan sistim “online” dalam mengisi Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) untuk mempercepat penyerapan anggaran 2013.

“Memang sekarang sudah ada upaya untuk memperbaiki, tapi pengisian DIPA itu lambat sehingga semuanya harus bersifat `online`,” kata Lana Soelistianingsih yang dihubungi di Jakarta, Kamis.

Menurut dia, sistim “online” itu dapat mencontoh RTGS (Real-Time Gross Settlement) yang ada di bank.

“Sistem RTGS adalah proses penyelesaian akhir transaksi (settlement) pembayaran yang dilakukan per transaksi (individually processed/gross settlement) dan bersifat Real-time (electronically processed), di mana rekening peserta dapat di-debet/di-kredit berkali-kali dalam sehari sesuai dengan perintah pembayaran dan penerimaan pembayaran,” kata dia.

Ia menjelasakn melalui sistem RTGS, peserta pengirim mentransmisikan transaksi pembayaran ke pusat pengolahan sistem RTGS (RTGS Central Computer/RCC) di Bank Sentral (dalam hal ini Bank Indonesia untuk proses “settlement”. Jika proses itu berhasil, transaksi pembayaran akan diteruskan secara otomatis dan elektronis kepada peserta penerima.

Selain itu, lanjut dia, yang lebih substansial adalah penyusunan APBN harus berdasarkan prioritas karena pengeluaran kementerian/lembaga terlalu besar dan tidak sesuai dengan keperluan.

“Keperluannya sekarang tidak sebesar itu, barangkali sekitar 90 persen dari anggaran yang selama ini diajukan,” kata dia.

Ia mengungkapkan kementerian/lembaga yang berada di daerah terkadang mendapatkan dana dari APBN dan APBD sehingga membingungkan mana yang harus dipakai karena alokasi anggarannya kebanyakan.

“Inilah yang saya bilang anggarannya terlalu besar, mereka sendiri bingung dengan proyek-proyek mana yang berkualitas,” ujar dia.

Hal senada juga diungkapkan oleh Ketua Dewan Nasional FITRA Ahmad Erani Yustika. Menurut dia, pemerintah bisa menggunakan model “priority budget system” pada penyusunan APBN.

Menurut dia, dengan menggunakan model perencanaan konvensional, tidak tergambarkan persoalan kekinian karena pemerintah tidak menyusun prioritasnya Pihaknya mencatat pada 2012, APBN hanya terserap 97 persen dengan konsentrasi penyerapan terbesar pada triwulan terakhir.

“Sekitar 40 persen anggaran diserap pada triwulan keempat,” katanya.

Ia mengatakan selama ini pemerintah mengkambinghitamkan kegagalan tersebut pada regulasi, sehingga beberapa kebijakan sudah diubah tapi tidak bisa memperbaiki keadaan.

Padahal, persoalan itu sebetulnya bisa dilacak dari penggunaan sistem anggaran konvensional untuk menyusun APBN.

Ia mengungkapkan, akan berbeda bila pemerintah menerapkan anggaran berbasis prioritas dalam penyusunan APBN. Dengan metode ini, akan diputuskan fungsi utama pemerintah yang diikuti dengan pengukuran kinerja dan penyesuaian belanja berdasarkan prioritas.

Sebelumnya Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengatakan pemerintah akan mengupayakan percepatan penyerapan anggaran belanja 2013, yang secara efektif berlaku mulai awal tahun, dengan melakukan beberapa langkah.

Menkeu mengatakan langkah tersebut adalah dengan meminta Kementerian Lembaga untuk menyerahkan DIPA lebih awal pada 10 Desember 2012 serta meningkatkan kapasitas para pengelola keuangan satuan kerja.

Kemudian, menyempurnakan regulasi dengan menerbitkan revisi Peraturan Presiden tentang pengadaan barang dan jasa yaitu Peraturan Presiden Nomor 70 tahun 2012 untuk mempercepat proses pengadaan barang dan jasa pemerintah.

“Dengan demikian, pelaksanaan kegiatan oleh masing-masing satuan kerja dan penyerapan anggaran pada tahun 2013 diharapkan dapat berjalan lebih baik dan merata,” kata Menkeu.(rr)

Sumber : http://id.berita.yahoo.com/ekonom-pengisian-dipa-harus-online-033023400–finance.html
dengan judul berita : “Ekonom: Pengisian DIPA Harus `Online`”
AntaraAntara – 2 jam 29 menit lalu

Gambar | Posted on by | Tag , | Meninggalkan komentar